Fenomena #KaburAjaDulu dan Ancaman Bonus Demografi Siswa SMAN 52 Jakarta

Daun dan Biji
By -
0


Fenomena #KaburAjaDulu merefleksikan keresahan generasi muda Indonesia terhadap minimnya peluang kerja dan biaya hidup tinggi, yang berpotensi memicu brain drain. Tim siswa SMAN 52 Jakarta—Callista Miranda, Sheila Anisah, dan Fahri—meraih medali perunggu OPSI 2025 dengan menganalisis dampaknya terhadap optimalisasi bonus demografi dalam pembangunan ekonomi menuju Indonesia Emas 2045. Penelitian ini relevan bagi siswa sekolah di Jakarta Utara, di mana urbanisasi memperkuat narasi migrasi.

Latar Belakang Fenomena

#KaburAjaDulu muncul sebagai tagar viral yang mengekspresikan keinginan pemuda untuk "kabur" dari kondisi ekonomi stagnan, dengan 50% penggunanya usia 19-29 tahun. Bagi siswa SMAN 52, survei internal tim pemenang menunjukkan 40-50% tertarik pada tren ini akibat ketidakpastian pasca-lulusan. Fenomena ini bukan pelarian semata, melainkan kritik terhadap kegagalan institusi dalam memanfaatkan bonus demografi puncak 2030-2040.

Dampak pada Bonus Demografi

Indonesia memiliki 68-69% penduduk usia produktif hingga 2045, potensial mendorong PDB per kapita USD 23.000 jika SDM berkualitas. Namun, ketertarikan #KaburAjaDulu berisiko mengurangi talenta lokal, seperti siswa SMAN 52 (891 siswa), yang krusial untuk sektor manufaktur dan digital. Tanpa intervensi, bonus ini berubah menjadi beban dengan pengangguran muda 19% di usia 15-24 tahun.

Prestasi Tim SMAN 52 Jakarta

Tim Callista Miranda cs. dari SMAN 52 Jakarta meraih perunggu OPSI 2025 kategori sains sosial, mewakili Provinsi DKI Jakarta. Proyek mereka mengintegrasikan data BPS dan survei sekolah untuk mengukur dampak migrasi terhadap kontribusi siswa dalam ekonomi nasional. Sekolah ini konsisten berprestasi nasional, memperkuat peran dalam pendidikan karakter anti-brain drain.

Implikasi Ekonomi Menuju 2045

Brain drain dari tren ini bisa hilangkan 1-2 juta talenta tahunan, menghambat target ekonomi top 5 dunia. Di SMAN 52, hal ini menekan motivasi siswa berkontribusi lokal, melemahkan rantai pasok nasional. Pemerintah dan sekolah perlu kurikulum vokasi, kewirausahaan, serta magang untuk kontra-narasi migrasi.


Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)