Siswa SMA Negeri 1 Jakenan Belajar Teknik Polinasi Melon di Greenhouse Wangan Bolek

Daun dan Biji
By -
0

Lorong-lorong sempit di dalam greenhouse Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Pati, pagi itu terasa lebih ramai dari biasanya. Di antara jajaran tanaman melon yang merambat rapi, beberapa siswa SMA Negeri 1 Jakenan berdiri dengan buku catatan dan gawai di tangan. Mereka merekam, memotret, dan mengajukan pertanyaan. Di hadapan mereka, Farida Imron, anggota kelompok tani Wangan Bolek, menjelaskan satu per satu teknik polinasi melon yang selama ini ia terapkan dalam budidaya. 

Percakapan Dimulai: Beda Bunga Jantan dan Betina

“Yang ini bunga jantan, yang ini betina. Kelihatan bedanya?” tanya Farida sambil menunjuk dua bunga yang letaknya berdekatan. Seorang siswa mendekat, ragu-ragu menyebut, “Ini jantan, Bu?” Farida tersenyum, lalu mengoreksi, “Bukan, ini betina. Coba lihat kelopaknya, lebih besar, dan di bawahnya ada bakal buahnya.” 

Ia menjelaskan bahwa bunga jantan biasanya tumbuh di ketiak batang air, dengan kelopak lebih kecil dan tanpa bakal buah di pangkalnya. Sementara itu, bunga betina memiliki kelopak lebih besar dan di bagian bawahnya sudah tampak bakal buah yang nantinya akan berkembang menjadi melon. Siswa diminta melihat langsung, membandingkan, dan berulang kali menyebut jenis bunga untuk memastikan mereka benar-benar paham. 

Belajar Langsung Teknik Polinasi

Setelah yakin siswa sudah bisa membedakan bunga, percakapan berlanjut ke praktik polinasi. “Kemarin sudah coba polinasi?” tanya Farida. “Belum,” jawab salah satu siswa. Farida lalu mengajak mereka mencari bunga jantan yang siap pakai. 

“Ini ya, bunga jantan. Kita ambil,” ujarnya sambil memetik satu bunga. Siswa lain sigap mengabadikan dengan video. Farida kemudian menunjukkan cara mengupas bagian mahkota, atau dalam bahasanya “dipotel-potel saja”, hingga serbuk sarinya tampak jelas. “Satu bunga betina, pakai dua bunga jantan. Biar peluang jadi buahnya lebih besar,” jelasnya, lalu spontan menambahkan candaan, “Namanya apa? Bukan poligami, tapi poliandri.” Suasana pun seketika cair, disambut tawa siswa yang sebelumnya tampak kaku. 

Saat serbuk sari mulai ditempelkan ke putik bunga betina, Farida mengingatkan, “Jangan ditekan. Kalau ditekan, putiknya rusak.” Ia sengaja memegang bagian tangkai, bukan bagian bakal buah, lalu menjelaskan bahwa calon buah tidak boleh terjepit atau tertekan karena nanti bentuknya bisa tidak sempurna. Di sela-sela praktik, siswa sesekali bertanya, memastikan langkah yang mereka lakukan sudah tepat. 

Waktu Paling Subur untuk Penyerbukan

Percakapan kemudian bergeser ke soal waktu pelaksanaan polinasi. “Penyerbukan itu juga ada batasannya,” kata Farida. Ia menerangkan bahwa waktu paling ideal untuk polinasi adalah antara pukul 06.00 hingga 09.00 pagi, ketika bunga dalam kondisi paling fertil. Seorang siswa memastikan, “Pagi, Bu?” Farida mengangguk, menambahkan bahwa polinasi juga bisa dilakukan sore hari setelah bunga mekar kembali. 
Teknik polinasi tampak dipraktikkan di Greenhouse Wangan Bolek (Rizka, 2026)

Ia menjelaskan bahwa setelah lewat jam 9 pagi, bunga yang tadi mekar sempurna akan mulai “muncuk” atau tampak seperti layu, sehingga kualitas serbuk sari dan putik untuk penyerbukan tidak lagi optimal. Penjelasan ini membuat siswa memahami bahwa polinasi bukan sekadar memindahkan serbuk sari, tetapi juga soal ketepatan waktu. [trubus](https://trubus.id/teknik-penyerbukan-manual-tanaman-melon/)

Posisi Buah, Pengukuran, dan Gangguan Penyakit

Di tengah percakapan, Farida mengajak siswa mengamati buah-buah yang sudah tumbuh. Ia menunjukkan bahwa buah-buah yang diikat tali berada di cabang tertentu. “Ini ada di cabang ke 1, 2, 3… sampai 11. Yang paling maksimal itu di cabang 8 sampai 12. Di atasnya atau di bawahnya biasanya kurang,” terang Farida, sambil menunjuk satu per satu ruas cabang. 

Ia juga menjelaskan cara mengukur diameter dan panjang buah untuk keperluan penelitian. Siswa diminta mencatat lingkar buah, misalnya 26,7, dan panjang sekitar 14, namun Farida menyarankan penggunaan alat ukur yang lebih presisi seperti mikrometer atau jangka sorong karena pita ukur karet bisa melar dan memengaruhi ketepatan hasil. “Kalau ngukur bobot, nanti timbang dari sini saja,” lanjutnya, sambil menunjukkan bagian buah yang akan dijadikan objek pengukuran. 

Percakapan sempat menyinggung masalah penyakit. Farida menunjukkan daun yang terkena downy mildew, jamur yang membuat daun bernoda dan mengganggu fotosintesis. Ia menerangkan bahwa daun yang sakit sebaiknya dipotong hingga batas jaringan sehat, atau dibantu dengan penyemprotan fungisida, agar tidak menular ke bagian lain tanaman. Siswa menyimak, sambil memotret daun yang dijadikan contoh. 

Mengenalkan Rumus Slovin kepada Siswa

Karena kegiatan ini juga ditujukan untuk lomba penelitian, Farida tidak lupa mengaitkan praktik di lapangan dengan metode ilmiah. “Kalau buat lomba, kalian nggak harus ngukur semuanya,” ucapnya. Ia lalu memperkenalkan rumus Slovin untuk menentukan jumlah sampel dari populasi buah, sehingga siswa dapat menghitung berapa minimal buah yang harus diukur tanpa mengorbankan validitas data. 

“Slovin itu jumlah sampel. Kalian bisa pilih error 5 persen, misalnya. Tulis saja I = 0,05, nanti ketemu berapa minimal sampel yang perlu diukur,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa dalam penelitian formal seperti skripsi, peneliti sering ditanya soal dasar perhitungan jumlah sampel ini, sehingga kebiasaan berpikir terukur perlu dilatih sejak SMA. 

Siswa Kelas X Belajar Riset dari Lahan Petani

Menariknya, sebagian besar siswa yang terlibat masih duduk di kelas X dan belum memilih peminatan. Namun dari percakapan dengan narasumber, mereka sudah bersentuhan langsung dengan konsep-konsep dasar agronomi dan penelitian: mengenali morfologi bunga, mempraktikkan polinasi manual, memahami pengaruh waktu dan posisi buah, hingga belajar alasan ilmiah di balik jumlah sampel yang diambil. 

Greenhouse Wangan Bolek bagi mereka bukan sekadar tempat tanaman melon tumbuh, tetapi kelas terbuka tempat petani dan siswa berdiskusi setara. Dari canda tentang “poliandri” hingga tanya jawab mengenai penyakit dan teknis pengukuran, percakapan antara siswa dan Farida Imron menjembatani teori di buku dengan praktik nyata di lahan, sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu dan minat riset di dunia pertanian sejak dini. 

Penulis: Suhadi
Penyelaras: Lintang 
Fotografer: Riska 

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)