Teori Jaringan Sosial (Social Network Analysis/SNA) dan Social Capital dalam Sosiologi Bencana: Hubungan Aktor, Ikatan, dan Persepsi Risiko melalui Tiga Fase Disaster Cycle

Daun dan Biji
By -
0


Abstrak

Penelitian ini menyajikan kerangka teoretis Social Network Analysis (SNA) dan social capital dalam sosiologi bencana untuk literasi siswa SMA N 1 Jakenan. SNA memetakan aktor (simpul) dan ikatan (garis hubungan) yang memediasi resiliensi komunitas terhadap banjir, dengan fokus pada bonding, bridging, dan linking social capital melalui fase respons, recovery, dan adaptasi. Kerangka ini diadaptasi dari Putti et al. (2023) untuk penelitian lapangan di Karangrowo, Pati.

1. Pendahuluan

Sosiologi bencana mempelajari interaksi sosial dalam mengelola risiko bencana alam seperti banjir, gempa, dan longsor. Social Network Analysis (SNA) dan social capital menjadi pendekatan kunci untuk memahami resiliensi komunitas (Aldrich, 2012). SNA mengukur pola hubungan antaraktor sosial yang memengaruhi persepsi risiko, sementara social capital menjelaskan "kekayaan sosial" berupa kepercayaan, norma gotong royong, dan jaringan yang mempercepat pemulihan pasca-bencana (Putnam, 2000).

Penelitian ini bertujuan menyajikan kerangka teoritis lengkap untuk literasi siswa SMA N 1 Jakenan dalam rangka penelitian adaptasi banjir di Desa Karangrowo, Pati, melanjutkan studi kearifan lokal pranata banjir.

2. Landasan Teori

2.1 Social Network Analysis (SNA)

SNA adalah metode kuantitatif-kualitatif untuk memvisualisasikan dan mengukur struktur jaringan sosial (Wasserman & Faust, 1994). Dalam sosiologi bencana, SNA mengidentifikasi:

  • Simpul (nodes): Aktor sosial (individu, kelompok, instansi)

  • Ikatan (ties): Hubungan bantuan, informasi, atau dukungan emosional

  • Centrality measures: Degree (jumlah koneksi), betweenness (posisi strategis), closeness (akses cepat)

Aldrich (2012) menunjukkan bahwa masyarakat dengan centrality tinggi (misalnya tetangga sentral) pulih lebih cepat pasca-bencana karena mobilisasi sumber daya efektif.

2.2 Social Capital

Social capital merujuk pada jaringan kepercayaan dan norma timbal balik yang memfasilitasi koordinasi aksi kolektif (Putnam, 2000). Dalam bencana, Woolcock dan Narayan (2000) membedakan tiga jenis:

Jenis Social CapitalKarakteristikContoh dalam BencanaFase Dominan
BondingIkatan kuat dalam kelompok homogenGotong royong tetangga angkat barang banjirRespons, Adaptasi
BridgingIkatan lemah lintas kelompokLSM berikan makanan pasca banjirRecovery
LinkingHubungan vertikal dengan otoritasBPBD sediakan tenda pengungsianRecovery

Tabel 1. Klasifikasi Social Capital dalam Manajemen Bencana

3. Integrasi Teori dengan Disaster Cycle

Disaster cycle terdiri dari tiga fase utama (Alexander, 2013): respons (evakuasi akut), recovery (pemulihan fisik/ekonomi), dan adaptasi (perubahan struktural perilaku). Setiap fase didominasi jenis social capital berbeda:

3.1 Fase Respons (0-72 jam)

Dominan: Bonding social capital
Aktor: Tetangga dekat (strong ties, Granovetter, 1973)
SNA Metrics: Degree centrality tinggi (Dewi: degree 5)
Perilaku: Angkat elektronik, evakuasi malam hari, tempatkan barang aman
Dampak: Persepsi risiko rendah karena "ada yang bantu"

3.2 Fase Recovery (72 jam - 3 bulan)

Dominan: Bridging dan linking social capital
Aktor: Pemerintah (BPBD, betweenness 672.327), LSM nelayan[ppl-ai-file-upload.s3.amazonaws]​
SNA Metrics: Betweenness centrality pemerintah tertinggi
Perilaku: Bersihkan puing, distribusi logistik, tenda pengungsian
Dampak: Fokus logistik > trauma psikologis

3.3 Fase Adaptasi (3 bulan+)

Dominan: Bonding dan bridging
Aktor: Tetangga dekat/jauh (reciprocity tinggi)
SNA Metrics: Mutual edges (timbal balik gotong royong)
Perilaku: Elevasi lantai, buat balek, drainase komunal
Dampak: Place attachment kuat, migrasi nol

4. Mekanisme Pengaruh terhadap Persepsi Risiko

Persepsi risiko (Bubeck et al., 2012) menurun melalui jalur mediasi:
Social Network → Social Capital → Risk Perception → Keputusan Bertahan

Word Cloud dari NVivo 12 menunjukkan "neighbor", "comfortable", "gotong royong" dominan, menekan persepsi bahaya meski area diprediksi tenggelam 2050. Hipotesis: Social capital intensity berbanding terbalik dengan perceived flood risk.

5. Aplikasi Penelitian Siswa SMA N 1 Jakenan

5.1 Desain Penelitian

Populasi: 30 warga Desa Karangrowo rawan banjir + 2 ketua RW
Metode: Wawancara mendalam (30-50 menit), purposive sampling
Instrumen: Pedoman wawancara 4 cluster (respons/recovery/adaptasi/risiko)

5.2 Prosedur Analisis Manual Siswa

  1. Mapping Aktor: Tulis nama tetangga/instansi di kertas

  2. Gambar Sociogram: Hubungkan garis berdasarkan "Siapa bantu siapa?"

  3. Hitung Centrality:

    • Degree: Jumlah garis per simpul

    • Betweenness: Hitung jalur terpendek lewat simpul X

  4. Klasifikasi Ikatan: Bonding (tetangga), bridging (LSM), linking (pemerintah)

  5. Interpretasi: Bandingkan Karangrowo vs Pluit[ppl-ai-file-upload.s3.amazonaws]​

Contoh Sociogram Manual:

[Tetangga A] ←→ [Tetangga B] (bonding, mutual) [BPBD] (linking, degree tinggi)

6. Hipotesis Penelitian

H1: Bonding social capital lebih dominan di Karangrowo (rural) daripada Pluit (urban)
H2: Social capital intensity berbanding terbalik dengan intensi migrasi
H3: Betweenness centrality pemerintah lebih tinggi di recovery phase

Daftar Pustaka

Aldrich, D. P. (2012). Building resilience: Social capital in post-disaster recovery. University of Chicago Press. https://doi.org/10.7208/chicago/9780226012896.001.0001[ppl-ai-file-upload.s3.amazonaws]​

Alexander, D. (2013). Resilience and disaster risk reduction: An etymological journey. Natural Hazards and Earth System Sciences, 13(11), 2707-2716. https://doi.org/10.5194/nhess-13-2707-2013

Bubeck, P., Botzen, W. J. W., & Aerts, J. C. J. H. (2012). A review of risk perceptions and other factors that influence flood mitigation behavior. Risk Analysis, 32(9), 1481-1495. https://doi.org/10.1111/j.1539-6924.2011.01783.x[ppl-ai-file-upload.s3.amazonaws]​

Granovetter, M. S. (1973). The strength of weak ties. American Journal of Sociology, 78(6), 1360-1380.

Putnam, R. D. (2000). Bowling alone: The collapse and revival of American community. Simon & Schuster.

Putti, H. M. D. M., Shalih, O., Mardiah, A. N. R., & Abandhika, F. (2023). Risk perception in facing post-disaster of Rob flood in North Jakarta coastal using social network approach. The Journal of Indonesia Sustainable Development Planning, 4(2), 159-172. https://doi.org/10.46456/jisdep.v4i2.443[ppl-ai-file-upload.s3.amazonaws]​

Wasserman, S., & Faust, K. (1994). Social network analysis: Methods and applications. Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511813948

Woolcock, M., & Narayan, D. (2000). Social capital: Implications for development theory, research, and policy. The World Bank Research Observer, 15(2), 225-249. https://doi.org/10.1093/wbro/15.2.225


Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)