Banjir "Buatan Manusia": Dari Amblasnya Jakarta hingga Banjir Kayu Sumatra, Apa Kata Riset BRIN?

Daun dan Biji
By -
0


Banjir di Indonesia tak lagi bisa disebut sekadar “bencana alam”. Riset terbaru menunjukkan, jejak tangan manusia dan keputusan politik ikut menentukan dalam setiap genangan yang menenggelamkan kampung-kampung dari Jakarta hingga Sumatra.instagram+2

Wajah baru banjir: ketika tanah turun dan hutan hilang

Dalam sebuah talkshow riset kebencanaan, peneliti BRIN Yus Budiono menegaskan bahwa penyebab utama kenaikan risiko banjir di Jabodetabek bukan hujan semata, melainkan penurunan muka tanah atau land subsidence. Penurunan ini terkait kuat dengan eksploitasi air tanah dan perkembangan kota yang tak diimbangi penyediaan air permukaan yang layak.brin+1

Riset yang sama menyebut empat faktor utama: penurunan muka tanah, perubahan tata guna lahan, kenaikan muka air laut, dan kejadian cuaca ekstrem, dengan kontribusi penurunan muka tanah terhadap peningkatan risiko banjir disebut hingga 145 persen per tahun. Pola ini diperparah tren iklim: curah hujan tahunan mungkin tak melonjak drastis, tetapi kejadian hujan ekstrem—seperti yang memicu banjir besar awal 2020 dan 2025—kian sering terjadi.rumahenergi+3

Dari Jakarta ke Sumatra: banjir yang “dibuat” manusia

Jika Jakarta bergulat dengan tanah yang terus ambles, Sumatra menghadapi banjir dengan wajah berbeda: banjir kayu. Dalam sebuah wawancara, Dandhy Laksono menggambarkan banjir di Aceh dan Medan bukan lagi sekadar banjir air, tetapi “banjir logging”—arus air bercampur balok-balok kayu yang jelas berasal dari kawasan hutan di hulu.bbc

Di balik itu, ada cerita panjang soal izin konsesi, HGU berskala raksasa, dan hutan adat yang berubah menjadi kebun industri, sehingga daya serap kawasan tangkapan air runtuh dalam hitungan dekade. Di titik inilah beberapa pengamat menyebut banjir sebagai “human-made disaster” atau bahkan “political-made disaster”, menyoroti kuatnya peran kebijakan dalam membuka ruang bagi deforestasi dan pelemahan fungsi daerah aliran sungai.gapki+1

Tradisi dan sains: dua kunci yang perlu disatukan

Di level nasional, diskusi mitigasi bencana bergerak ke arah baru: mempertemukan tradisi dan sains. Sebuah webinar yang diselenggarakan kelompok riset ekologi dan mitigasi bencana BRIN menekankan bahwa upaya pengurangan risiko tak bisa hanya mengandalkan instrumen ilmiah, tetapi juga perlu berpijak pada nilai, ingatan kolektif, dan praktik lokal masyarakat.bbc

Contoh konkret pendekatan ilmiah terlihat dalam program Tsunami Ready yang dikembangkan UNESCO, yang mensyaratkan 12 indikator mulai dari kajian risiko, pemetaan populasi terdampak, hingga sistem peringatan dan latihan evakuasi terpadu. Indonesia saat ini memiliki lebih dari 20 komunitas pesisir yang telah diakui sebagai Tsunami Ready, tersebar di sekitar 10 provinsi, menunjukkan bahwa standar ilmiah bisa diadaptasi ke berbagai konteks budaya setempat.bbc

Tabel ringkas: faktor dan penanganan banjir

AspekTemuan KunciSumber dan Konfirmasi
Penyebab utama banjir JabodetabekPenurunan muka tanah terkait pengambilan air tanah, disusul alih fungsi lahan, kenaikan muka laut, dan hujan ekstrem instagram+2Pernyataan peneliti BRIN dan ringkasan resmi lembaga riset nasional instagram+1
Pola hujan ekstremHujan ekstrem dipicu kombinasi perubahan iklim, pemanasan laut, dan dinamika atmosfer seperti vorteks dan gelombang tropis rumahenergi+2Analisis peneliti iklim BRIN dan kajian hidrometeorologi terkini rumahenergi+2
Kerusakan kawasan huluBanjir di Sumatra dikaitkan dengan deforestasi, kerusakan DAS, dan izin lahan skala besar yang menggerus hutan adat gapki+1Laporan lembaga lingkungan dan wawancara narasumber lapangan gapki+1
Pendekatan mitigasiKombinasi sistem polder, danau retensi, larangan eksploitasi air tanah, peringatan dini berbasis data/AI, serta pelibatan masyarakat instagram+2Paparan peneliti BRIN dan dokumen kebijakan pengelolaan risiko banjir instagram+1
Peran tradisi dan komunitasPenguatan kesiapsiagaan melalui tradisi lokal, pendidikan kebencanaan, dan program komunitas seperti Tsunami Ready bbcProgram UNESCO dan laporan pendampingan komunitas pesisir bbc

Pengetahuan baru: banjir sebagai cermin pilihan pembangunan

Dari tiga sumber yang Anda sajikan dan data pendukung lembaga riset, satu pesan mengemuka: banjir hari ini adalah cermin pilihan pembangunan Indonesia. Di kota-kota pantai, eksploitasi air tanah dan tata ruang yang mengabaikan daya dukung membuat tanah turun lebih cepat daripada kemampuan infrastruktur mengejar. Di kawasan hulu dan pedalaman, izin lahan dan pembukaan hutan mengubah karakter sungai, dari aliran yang dulu tertahan rimba menjadi arus liar yang menyeret kayu dan lumpur sekaligus.mongabay+4

Di tengah itu, sains menawarkan peta risiko, teknologi sensor, dan sistem peringatan, sementara tradisi menyediakan bahasa dan nilai untuk menggerakkan warga agar peduli, menanam pohon, menjaga hutan, dan menuntut kebijakan yang berpihak pada keselamatan bersama. Banjir mungkin tak bisa dihapus total, tetapi arah kebijakan hari ini akan menentukan: apakah ia tetap menjadi “bencana alam”, atau sepenuhnya berubah menjadi bencana hasil perbuatan manusia.brin+2

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)