Integrasi Revolusi Industri 5.0 ke dalam Sistem Pertanian 5.0

Daun dan Biji
By -
0
Revolusi Industri 5.0 merepresentasikan pergeseran paradigma dari fokus pada otomatisasi dan digitalisasi (Industri 4.0) menuju **kolaborasi yang harmonis antara kecerdasan manusia dan teknologi canggih** . Konsep ini berpusat pada manusia (*human-centric*), menekankan keberlanjutan (*sustainability*), dan ketahanan (*resilience*) . Dalam konteks pertanian, revolusi ini memanifestasikan diri dalam bentuk **Pertanian 5.0**, yang bertujuan menciptakan sistem pertanian yang tidak hanya efisien dan produktif, tetapi juga adaptif dan berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi mutakhir .

Kerangka Teori: Dari Industri 4.0 menuju Society 5.0

Revolusi Industri 5.0  didefinisikan sebagai fase evolusi industri yang menekankan pada kolaborasi sinergis antara manusia dan mesin . Berbeda dengan pendahulunya (Industri 4.0) yang kerap diasosiasikan dengan penggantian tenaga manusia oleh mesin, Revolusi 5.0 justru menempatkan teknologi seperti Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), Internet of Things (IoT), dan robotika sebagai mitra untuk meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan manusia . Prinsip utamanya adalah berpusat pada manusia, keberlanjutan, dan ketahanan. 

Society 5.0 adalah konsep yang diusung Jepang untuk menggambarkan masyarakat yang mengintegrasikan ruang dunia maya dan ruang fisik secara berkelanjutan, di mana teknologi maju digunakan untuk memecahkan tantangan sosial dan meningkatkan kualitas hidup manusia . Dalam kerangka Society 5.0, pertanian tidak lagi dipandang sebagai sektor tradisional, melainkan sebagai sistem berteknologi tinggi yang terintegrasi penuh.

Penerapan Revolusi Industri 5.0 dalam Sistem Pertanian 5.0

Penerapan Revolusi Industri 5.0 dalam pertanian ditopang oleh beberapa teknologi kunci yang membentuk ekosistem smart agriculture:

Internet of Things (IoT) Jaringan sensor yang dipasang di ladang mengumpulkan data real-time tentang kelembapan tanah, suhu, kadar hara, dan pertumbuhan tanaman. Data ini menjadi dasar untuk pengambilan keputusan yang presisi .

Kecerdasan Buatan (AI) dan Big Data:  AI menganalisis data yang dikumpulkan oleh sensor (Big Data) untuk memberikan wawasan mendalam, seperti memprediksi hasil panen, mengidentifikasi serangan hama dan penyakit secara dini, serta mengoptimalkan jadwal pemupukan dan irigasi.

Robotika dan Otomasi: Robot pertanian (agribots) atau cobots (robot kolaboratif) mulai mengambil alih tugas-tugas yang repetitif dan berat, seperti penanaman, penyemprotan pestisida yang tepat sasaran, dan pemanenan. Hal ini meningkatkan efisiensi dan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual .

Bioteknologi dan Pengeditan Genom: Teknologi ini memungkinkan pengembangan varietas tanaman unggul yang lebih tahan terhadap penyakit, cuaca ekstrem, dan kekeringan, mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan .

Nanoteknologi: Pengembangan pupuk berukuran nano, seperti  pupuk nano-nitrogen, dapat meningkatkan efisiensi pemupukan secara signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa pupuk konvensional hanya diserap 30-60%, sedangkan sisanya terbuang dan mencemari lingkungan. Pupuk nano dirancang untuk meningkatkan penyerapan hara oleh tanaman, mengurangi limbah, dan meminimalkan dampak lingkungan .

Manfaat Penerapan Pertanian 5.0

Integrasi teknologi ini membawa banyak manfaat, di antaranya:

Produktivitas dan Efisiensi yang Lebih Tinggi: Otomatisasi dan optimasi sumber daya memungkinkan produksi lebih banyak dengan input yang lebih sedikit .

Keberlanjutan Lingkungan: Presisi dalam penggunaan air, pupuk, dan pestisida secara signifikan mengurangi limbah dan dampak pencemaran lingkungan . Inovasi pupuk organik juga turut mendukung pertanian berkelanjutan .

Peningkatan Kualitas Hidup Petani: Dengan bantuan mesin dan robot untuk tugas berat, beban kerja fisik petani berkurang. Selain itu, akses terhadap informasi yang akurat membantu meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan mereka .

Ketahanan Sistem Pangan: Sistem menjadi lebih tangguh dalam menghadapi gangguan, seperti perubahan iklim dan fluktuasi pasar, berkat kemampuan prediksi dan adaptasi yang dimiliki .

Tantangan dan Strategi Implementasi

Meski menjanjikan, implementasi Pertanian 5.0 menghadapi beberapa tantangan signifikan :

Kesiapan SDM dan Infrastruktur: Literasi digital petani yang masih terbatas dan kesenjangan akses terhadap teknologi menjadi hambatan utama. Diperlukan pelatihan dan edukasi yang berkelanjutan.

Keamanan dan Privasi Data: Data yang dihasilkan oleh sistem pertanian yang terhubung harus dilindungi dengan baik agar tidak disalahgunakan .

Kesetaraan Akses: Perlu memastikan bahwa semua petani, termasuk petani kecil, memiliki akses yang setara terhadap teknologi ini .

Transisi dari Revolusi Industri 5.0 ke Sistem Pertanian 5.0 bukan sekadar tentang adopsi teknologi mutakhir, melainkan sebuah transformasi menyeluruh yang menempatkan **kolaborasi antara kecerdasan manusia, kelestarian lingkungan, dan teknologi sebagai intinya**. Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan gelombang ini guna mewujudkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Keberhasilan implementasinya bergantung pada komitmen bersama dari **pemerintah, sektor swasta, institusi pendidikan, dan tentu saja, petani sebagai pelaku utama** dalam membangun ekosistem pertanian yang lebih cerdas, tangguh, dan berkelanjutan .

---

Daftar Pustaka

1.  BPMB KM UMA. (2023). *Pertanian 5.0: Revolusi Teknologi di Dunia Pertanian*. Diakses pada 22 Oktober 2025, dari [https://bpmbkm.uma.ac.id/2023/07/27/pertanian-5-0-revolusi-teknologi-di-dunia-pertanian/](https://bpmbkm.uma.ac.id/2023/07/27/pertanian-5-0-revolusi-teknologi-di-dunia-pertanian/) .
2.  Saprudin, D., Gulamahdi, M., Hartatik, W., Darusman, L. K., & Nuraisyah, I. (2014). Pengembangan Pupuk Cair Nitrogen Berukuran Nanometer untuk Meningkatkan Efisiensi Pemupukan. *Jurnal Ilmiah Ilmu Pengetahuan Indonesia (JIPI)*. Diakses pada 22 Oktober 2025, dari [https://journal.ipb.ac.id/index.php/JIPI/article/view/8322](https://journal.ipb.ac.id/index.php/JIPI/article/view/8322) .
3.  Kementerian Keuangan RI. (2023). *Mengenal Revolusi Industri 5.0*. Diakses pada 22 Oktober 2025, dari [https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-lahat/baca-artikel/16023/Mengenal-Revolusi-Industri-50.html](https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-lahat/baca-artikel/16023/Mengenal-Revolusi-Industri-50.html) .
4.  Fasya, A. G., & Megawati, D. S. (2025). *Pembuatan pupuk organik dari bahan kotoran hewan (kohe) ayam dan kambing bersama kelompok tani Desa Kluwut Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang*. Repository UIN Malang. Diakses pada 22 Oktober 2025, dari [https://repository.uin-malang.ac.id/23120/](https://repository.uin-malang.ac.id/23120/) .

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)