PUPUK ORGANIK – Di era pertanian 5.0, menggabungkan teknologi digital dan prinsip keberlanjutan menjadi kunci keberhasilan budidaya. Ketergantungan pada pupuk kimia sintetis tidak hanya berdampak biaya tinggi, tapi juga mengancam kesehatan tanah dan lingkungan. Solusi inovatif kini hadir lewat pembuatan pupuk organik mandiri berbasis bahan lokal, yang diperkaya dengan teknologi dan pemantauan cerdas.
Mengintegrasikan Fungsi Bahan dan Teknologi
Memahami fungsi tiap bahan menjadi dasar pembuatan pupuk yang efektif dan ramah lingkungan. Ditambah dengan pemanfaatan sensor tanah dan aplikasi pertanian digital, pemantauan kondisi nutrisi dan kelembapan dapat dilakukan real-time sehingga dosis pupuk bisa disesuaikan tepat guna.
-
Sumber Nitrogen: Daun kelor, gamal, turi, pete, indigovera, dan kotoran kambing (srintil), yang mendukung pertumbuhan daun dan batang.
-
Sumber Kalium: Kulit pisang, bonggol pisang, abu sekam, dan daun ketela untuk mendukung pembungaan dan ketahanan tanaman.
-
Sumber Fosfor: Ikan busuk atau rebon dan bekatul guna memacu perkembangan akar dan pembungaan.
-
Zat Pengatur Tumbuh Alami: Akar bambu, buah mengkudu, dan pepaya muda yang kaya hormon pertumbuhan auksin dan giberelin.
-
Pestisida Nabati: Kunyit, laos, jahe, lengkuas, dan daun pepaya sebagai pengendali hama alami.
-
Sumber Enzim & Dekomposer: Kulit nanas dan buah lainnya yang mempercepat dekomposisi bahan organik.
Formulasi Pupuk Cair Organik Berbasis Smart Farming
Pupuk cair adalah media nutrisi cepat yang dapat disemprot atau disiram. Dengan teknologi IoT, kadar nutrisi pupuk cair dapat dipantau sebelum dan sesudah aplikasi.
Bahan:
-
Bahan organik (daun, buah, rempah, dll.) sesuai resep di atas
-
Molase atau gula merah: 1 kg
-
Air bersih: 20 liter
-
Dekomposer (EM4 atau Trichoderma): opsional
Cara Membuat:
-
Cacah bahan organik halus agar fermentasi optimal.
-
Campur sesuai proporsi: 10 kg daun/herbal, 5 kg buah/kulit, 2 kg rempah, 2 kg abu sekam, 1 kg dolomit, 3 kg srintil kambing.
-
Larutkan molase dalam air, masukkan ke drum bersama dekomposer dan aduk rata.
-
Proses fermentasi selama 21-30 hari dengan aerasi (aduk tiap 3 hari).
-
Saring saat bau sudah asam fermentasi, bukan busuk.
Formulasi Pupuk Padat/Kompos Transformasi Digital
Pengolahan kompos kini dapat direkam suhu menggunakan sensor digital untuk mengatur waktu pembalikan dan kelembapan.
Komposisi:
-
Hijau (40%): sumber nitrogen
-
Coklat (30%): sumber karbon
-
Buah & kulit (15%): sumber enzim dan gula
-
Rempah (5%): pestisida alami
-
Abu sekam & dolomit (5%): pengatur pH dan mineral
-
Srintil kambing (5%): aktivator biologis
Proses:
-
Berlapis sesuai komposisi hingga ketinggian 1-1,5 meter.
-
Siram dengan larutan dekomposer dan molase, tutup dengan terpal.
-
Bolak-balik tumpukan setiap 7 hari, pantau suhu dengan sensor.
-
Matang setelah 40-60 hari dengan ciri suhu stabil dan aroma tanah segar.
Rekomendasi Pemanfaatan untuk Pertanian 5.0
-
Pupuk cair diencerkan, semprotkan secara digital melalui drone untuk tanaman muda dan dewasa, sesuai dosis 1:15, 1:10, dan 1:8 untuk fase vegetatif dan generatif.
-
Pupuk padat dicampur dengan tanah atau ditabur di sekitar tanaman.
-
Gunakan aplikasi monitoring tanaman untuk menyesuaikan waktu dan dosis pemupukan berdasarkan data real-time.
Kesimpulan
Menggunakan pupuk organik berbasis bahan lokal dan teknologi pertanian 5.0 tidak hanya mengurangi biaya dan dampak negatif, tetapi juga meningkatkan produksi berkelanjutan yang ramah lingkungan. Dengan pengawasan digital, petani dapat melakukan pengelolaan nutrisi tanaman secara presisi dan efisien, menyesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman untuk hasil optimal.
Posting Komentar
0Komentar