Data yang Berbisik

Daun dan Biji
By -
0

CERPEN SEKOLAH RISET
- Lembar data di layar komputer Dr. Rendra seakan berteriak, menuntut untuk didengarkan. Tapi suaranya adalah bisikan tajam yang mengiris ruang hening kantornya di tengah malam. Tiga bulan timnya melakukan penelitian etnografi di "Bina Karya", BUMN yang sedang naik daun. Tujuannya mulia: memahami budaya inovasi di perusahaan pelat merah. Yang mereka temukan adalah jaringan suap yang sistematis, disembunyikan di balik proyek-proyek inovasi fiktif.

Keesokan harinya, ketegangan menyelimuti ruang rapat kecil di kampus. Tim intinya berkumpul: Rendra, sang pemimpin yang prinsipil; Sari, peneliti muda yang penuh idealismenya; dan Farid, yang karir akademisnya sedang menanjak.

"Ini bukan lagi temuan penelitian, Ren. Ini bom waktu," desis Sari, matanya berbinar gabungan antara kemarahan dan ketakutan. "Kita punya kewajiban moral untuk membongkarnya. Ini jelas penyalahgunaan uang negara!"

"Tunggu dulu, Sari. Jangan gegabah," sela Farid, suaranya tenang namun berisi kekhawatiran. "Pertama, kita terikat oleh kerahasiaan etika penelitian. Informed consent yang kita tandatangani menjamin anonimitas mereka. Kedua, jika kita melapor, akses kita putus. Penelitian kita hancur. Belum lagi... konsekuensi hukum bagi kita sendiri. Kita bisa dituduh melanggar NDA."

"Jadi kita diam saja? Melakukan pembiaran?" sergah Sari, suaranya meninggi. "Etika penelitian itu kan bukan cuma soal protokol, tapi juga tentang tanggung jawab kita pada masyarakat! Apa gunanya data akurat jika hanya jadi arsip mati, sementara korupsi terus berjalan?"

Rendra memandangi kedua anak didiknya yang berseteru. Pertanyaan yang selama ini jadi debat teoritis di kelasnya, kini menghantamnya dengan kekuatan penuh. *Apa kewajiban peneliti ketika menemukan ketidakadilan?*

"Farid benar soal risiko," kata Rendra akhirnya, mencoba menenangkan. "Tapi Sari juga benar soal tanggung jawab. Ini dilema klasik: kewajiban pada subjek penelitian vs kewajiban pada publik."

"Bukan cuma itu, Ren," tambah Farid. "Akurasi kita juga dipertaruhkan. Jika kita jadi whistleblower, Bina Karya akan tutup rapat. Kita tidak bisa lagi mengonfirmasi atau mendalami data. Laporan kita jadi tidak lengkap. Ilmu pengetahuan justru dirugikan."

"Ilmu pengetahuan?" Sari menyeringai sinis. "Far, di luar sana uang rakyat dikorupsi untuk liburan dan mobil mewah para direktur! Apakah ilmu pengetahuan kita lebih berharga daripada keadilan? Kita bukan jadi peneliti, tapi jadi komplotan mereka jika kita tutup mulut!"

Perdebatan sengit itu menjadi "bulan-bulanan" di setiap pertemuan mereka. Farid bersikukuh pada netralitas dan integritas metodologis. Sari bersikeras pada keadilan sebagai panggilan tertinggi. Rendra terjepit di tengah, mencoba mencari jalan tengah yang tidak ada.

Puncaknya terjadi ketika Sari, tanpa sepengetahuan mereka, menyampaikan kekhawatirannya secara anonym ke sebuah LSM anti-korupsi. Bocoran itu memicu gelombang investigasi awal dari pihak luar.

"SARI! Apa yang sudah kau lakukan?" hardik Farid begitu mereka berdua masuk ke ruangan Rendra, wajahnya merah karena marah. "Kau sudah melanggar etika! Kau membahayakan kita semua! Sekarang Bina Karya pasti tahu sumbernya dari kita!"

"Aku tidak tahan lagi, Farid! Diam itu bersekongkol!" balas Sari, tidak kalah kerasnya.

"Kalian berdua, cukup!" teriak Rendra untuk pertama kalinya. Suasana ruangan langsung senyap. "Keputusan Sari, meskipun dilakukan tanpa koordinasi, telah mengubah segalanya. Titik tidak bisa kembali sudah kita lewati. Sekarang pertanyaannya bukan 'haruskah kita melapor?' tapi 'bagaimana kita menyelamatkan kebenaran dan diri kita sendiri?'"

Beberapa hari kemudian, surat pemutusan kerjasama penelitian dari Bina Karya resmi datang. Akses mereka dicabut total. Namun, badai benar-benar pecah ketika sebuah media nasional memuat laporan investigatif mendalam tentang korupsi di Bina Karya, dengan data-data yang sangat mirip dengan temuan penelitian mereka.

Tim Rendra menjadi tersangka utama. Mereka dihadapkan pada pilihan yang mustahil: mengakui pelanggaran kerahasiaan dan menghadapi tuntutan hukum, atau menyanggal dan membiarkan kebenaran terdistorsi.

Dalam tekanan yang begitu hebat, di ruang rapat yang sama, Rendra berbicara dengan suara lirih namun tegas.

"Kita adalah peneliti. Kewajiban pertama kita adalah pada kebenaran. Kebenaran metodologis, dan kebenaran substantif. Kita sudah menjaga yang pertama dengan ketat. Sekarang, waktunya untuk menjaga yang kedua."

Dia mengambil napas dalam-dalam.

"Kita akan mengadakan konferensi pers. Kita akan akui bahwa kitalah sumbernya. Kita akan hadapi konsekuensinya. Karena kadang-kadang, menjadi ilmuwan yang bertanggung jawab berarti harus bersedia menjadi whistleblower ketika situasi menuntutnya."

Sari mengangguk, air mata kebanggaan di pelupuk matanya. Farid, setelah lama terdiam, akhirnya menghela napas dan mengangguk pelan. Dia memandangi data-data yang telah menjadi "whistleblower" itu. Mereka bukan lagi sekumpulan angka dan wawancara. Mereka adalah suara. Dan sebagai penjaga suara itu, kewajiban terberat mereka adalah memastikan suara itu didengar, betapa pun pahitnya konsekuensinya. Mereka akan melangkah bersama, memasuki badai yang tidak lagi bisa mereka hindari.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)