Liputan Diskusi Kelas XI F 8: Utang Negara sebagai Instrumen Pembangunan dan Tantangannya**

Daun dan Biji
By -
0

Oleh: Tim Peliput Kelas XI F 8

Jakarta, 29 Agustus 2025 – Dalam sebuah diskusi yang berlangsung interaktif, kelas XI F 8 mengupas tuntas peran dan risiko utang negara dalam pembangunan. Diskusi yang melibatkan Kelompok 3 sebagai penyaji dan Kelompok 4 sebagai penyangga ini menggambarkan dinamika antara manfaat dan tantangan penggunaan utang luar negeri.

Kelompok 3: Manfaat Utang Negara untuk Pembangunan

Kelompok 3 yang terdiri dari Amanda Citra S., Anastasya A., Amira Septi W., dan anggota lainnya memaparkan definisi utang negara bahwa utang merupakan pinjaman pemerintah dari sumber dalam dan luar negeri seperti Bank Dunia, IMF, dan investor asing. Selanjutnya, mereka menguraikan alasan utama pemerintah berutang, antara lain keterbatasan penerimaan negara, kebutuhan pembangunan infrastruktur, pembiayaan sosial, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta menjaga stabilitas ekonomi.

Selain itu, kelompok ini menyoroti manfaat utang untuk percepatan pembangunan, termasuk meningkatkan infrastruktur, mengembangkan sumber daya manusia, dan membuka peluang investasi. Contoh nyata yang disampaikan adalah utang yang digunakan oleh Indonesia untuk membangun jalan tol, bendungan, dan fasilitas listrik yang vital bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, Penyaji juga menyampaikan risiko dari utang tersebut, seperti beban pembayaran yang besar, ketergantungan pada pemberi pinjaman, potensi krisis moneter, pengaruh asing yang tidak diinginkan, serta beban yang akan ditanggung generasi mendatang.

Kelompok 4: Kritik dan Solusi terhadap Kinerja Utang Negara

Menanggapi paparan Kelompok 3, Kelompok 4 yang beranggotakan Desya Angraini, Kurnia Maisa Jolanie, Maheswari Kumalasari, dan lainnya memberikan sejumlah kritik tajam dan pertanyaan. Mereka menyoroti besarnya jumlah utang luar negeri Indonesia saat ini dan mempertanyakan apakah alokasi pengeluaran utang sudah tepat sasaran.



Kelompok 4 menegaskan adanya kasus penggunaan utang yang belum optimal sehingga berdampak negatif pada pembangunan. Selain itu, mereka menggali risiko pembangunan dengan utang luar negeri yang tidak diperhitungkan secara matang.

Sebagai solusi, Kelompok 4 mengusulkan agar Indonesia mengembangkan strategi pembangunan yang mandiri tanpa ketergantungan pada pinjaman luar negeri, misalnya dengan meningkatkan penerimaan negara dari sumber domestik seperti pajak dan investasi dalam negeri. Mereka juga menghadirkan contoh negara yang berhasil membangun tanpa menambah utang luar negeri sebagai inspirasi.

Kesimpulan

Diskusi kelas XI F 8 berhasil memaparkan gambaran utang negara sebagai pedang bermata dua: sekaligus peluang percepatan pembangunan dan tantangan pengelolaan risiko utang jangka panjang. Melalui perdebatan konstruktif antara Kelompok 3 dan Kelompok 4, peserta mendapatkan wawasan yang lebih seimbang mengenai pentingnya kebijakan utang yang bijaksana dan berkelanjutan bagi masa depan Indonesia.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)