Seminar Nasional Kolaborasi Prodi Sosiologi- Antropologi UNNES, AP3SI, dan MGMP Sosiologi Jateng: Pemberdayaan dan Penyelesaian Masalah Sosial dengan Eco-Sociopreneurship

Daun dan Biji
By -
0

MGMP SOSIOLOGI PROVINSI JAWA TENGAH  — Seminar nasional yang melibatkan Program Studi Sosiologi dan Antropologi Universitas Negeri Semarang (UNNES), Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (AP3SI), dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi Provinsi Jawa Tengah berhasil digelar, menghadirkan Prof. Dr. Tri Marhaeni Pudji Astuti, M.Hum sebagai narasumber utama. Acara ini menjadi momentum penting dalam mengangkat paradigma baru pemberdayaan sosial melalui integrasi kurikulum sosiologi dan pemanfaatan konsep eco-sociopreneurship. 

Dalam presentasinya, Prof. Tri Marhaeni menyoroti permasalahan sosial yang masih menjadi tantangan nasional maupun global seperti kemiskinan, ketimpangan ekonomi, konflik sosial dalam masyarakat multikultural, hingga degradasi lingkungan. "Kita dihadapkan pada pilihan menjadi penonton atau agen perubahan yang aktif menyelesaikan masalah sosial," ujarnya.

Melalui kurikulum sosiologi fase F yang berorientasi pada materi esensial dan aksi nyata, pembelajaran kini diarahkan pada pengembangan soft skill dan karakter siswa agar tidak hanya memahami teori sosial, melainkan mampu bertindak mengatasi masalah sosial dengan pendekatan pemberdayaan. Salah satu inovasi yang didorong adalah eco-sociopreneurship yang menggabungkan tujuan ekologis, sosial, dan ekonomi secara holistik.

Model eco-sociopreneurship ini menyeimbangkan tiga pilar utama: planet (kepedulian lingkungan dan pemanfaatan sumber daya lokal), people (pemberdayaan komunitas dan pelestarian budaya), serta profit (menghasilkan keuntungan usaha yang berkelanjutan). Prof. Tri mencontohkan program pemberdayaan di SMAN 1 Jepon yang mengajak siswa mengolah limbah kayu jati menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi tinggi, sekaligus mengintegrasikan pembelajaran digital untuk pemasaran.

Melalui seminar ini, para guru sosiologi diharapkan dapat merancang proyek kolaboratif di kelas yang solutif dan berkelanjutan, serta menanamkan kesadaran kolektif membangun masyarakat harmonis. Prof. Tri menekankan pentingnya guru sebagai penentu materi esensial dan fasilitator pembelajaran yang mendalam, bukan sekadar hafalan.

“Semua masalah sosial adalah peluang bagi inovasi dan kolaborasi, mari bersama kita wujudkan generasi yang tidak hanya cerdas secara sosial, tetapi juga mandiri secara ekonomi dan lestari secara ekologi,” tutup Prof. Tri mengajak optimisme.

Seminar nasional ini tidak sekadar menyajikan teori, tetapi menggerakkan seluruh elemen pendidikan dan sosial untuk berperan aktif sebagai agen perubahan dalam menjawab tantangan sosial kontemporer.

***
Jurnalis: Mas Ibe 
Fotografer: Endah Dipandang Mata

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)