Debat seru di Smart Class Room itu melibatkan dua kelompok siswa kelas XII F 12. Kelompok pertama dipimpin oleh Amanda Citra S., bersama Anastasya Anggrasari, Anisa Septi Wahyuni, Ismi Indriani D., M. Alfianiyah, Sepiana Rahmawati, Tita Agustina Zalinda Sari, Wanda Farian A.P., dan Widia Arom S. Kelompok kedua diketuai oleh Destiya Anggraini, dengan anggota Kurnia Maisa J., Maheswari Kusuma P., Mayla Fatraskya, Naisela Yovi M.B., Nur Daryati M.R., Palarti Agung W., dan Sanaya Nareswara.
Ide dan Fokus Perdebatan
Amanda dkk. mengangkat isu spiritual terkait praktik ziarah yang identik dengan harapan keberkahan dari tokoh agama seperti habib, kyai, dan sunan. Mereka mendebat risiko kemusyrikan dan pentingnya mengarahkan ziarah agar tidak menyimpang dari keimanan. Mereka juga menyoroti dampak ekonomi positif dari wisata religi yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Sementara Destiya dan kelompoknya fokus pada fenomena penghabiban tokoh agama lokal dan pemanfaatannya sebagai pusat Islamisasi sekaligus wisata religi. Mereka membahas strategi menjadikan Indonesia sebagai pusat wisata religi dunia dengan mengangkat nama tokoh-tokoh besar seperti Buya Hamka, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati. Kelompok ini menekankan pentingnya pengelolaan yang mengedepankan nilai toleransi dan keberagaman agar wisata religi menjadi sumber spiritual dan ekonomi yang berkelanjutan.[2][1]
Penyelesaian dan Solusi
Diskusi berakhir dengan kesepakatan bahwa pengembangan wisata religi harus mengedepankan keseimbangan antara nilai spiritual, ekonomi, dan sosial. Keduanya sepakat bahwa edukasi toleransi dan kolaborasi antar elemen masyarakat penting agar wisata religi tidak menimbulkan konflik sosial. Pengelolaan yang tepat dinilai akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat wisata religi sekaligus menjaga harmoni sosial dan keberagaman budaya.
Perdebatan kelas XII F 12 menunjukkan kedewasaan generasi muda dalam memahami isu sosial kontemporer. Dengan inspirasi dari tokoh agama lokal dan kesadaran untuk memajukan ekonomi berbasis budaya dan spiritual, mereka membuka jalan bagi pelestarian wisata religi yang inklusif, edukatif, dan berdaya guna bagi masyarakat dan bangsa.Debat Seru Kelas XII F 12: Amanda, Destiya, dan Teman-teman Bahas Wisata Religi dan Tokoh Lokal
Inisiator dan Anggota Kelompok
Debat seru di Smart Class Room itu melibatkan dua kelompok siswa kelas XII F 12. Kelompok pertama dipimpin oleh Amanda Citra S., bersama Anastasya Anggrasari, Anisa Septi Wahyuni, Ismi Indriani D., M. Alfianiyah, Sepiana Rahmawati, Tita Agustina Zalinda Sari, Wanda Farian A.P., dan Widia Arom S. Kelompok kedua diketuai oleh Destiya Anggraini, dengan anggota Kurnia Maisa J., Maheswari Kusuma P., Mayla Fatraskya, Naisela Yovi M.B., Nur Daryati M.R., Palarti Agung W., dan Sanaya Nareswara.
Ide dan Fokus Perdebatan
Amanda dkk. mengangkat isu spiritual terkait praktik ziarah yang identik dengan harapan keberkahan dari tokoh agama seperti habib, kyai, dan sunan. Mereka mendebat risiko kemusyrikan dan pentingnya mengarahkan ziarah agar tidak menyimpang dari keimanan. Mereka juga menyoroti dampak ekonomi positif dari wisata religi yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Sementara Destiya dan kelompoknya fokus pada fenomena penghabiban tokoh agama lokal dan pemanfaatannya sebagai pusat Islamisasi sekaligus wisata religi. Mereka membahas strategi menjadikan Indonesia sebagai pusat wisata religi dunia dengan mengangkat nama tokoh-tokoh besar seperti Buya Hamka, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati. Kelompok ini menekankan pentingnya pengelolaan yang mengedepankan nilai toleransi dan keberagaman agar wisata religi menjadi sumber spiritual dan ekonomi yang berkelanjutan.
Penyelesaian dan Solusi
Diskusi berakhir dengan kesepakatan bahwa pengembangan wisata religi harus mengedepankan keseimbangan antara nilai spiritual, ekonomi, dan sosial. Keduanya sepakat bahwa edukasi toleransi dan kolaborasi antar elemen masyarakat penting agar wisata religi tidak menimbulkan konflik sosial. Pengelolaan yang tepat dinilai akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat wisata religi sekaligus menjaga harmoni sosial dan keberagaman budaya.
Perdebatan kelas XII F 12 menunjukkan kedewasaan generasi muda dalam memahami isu sosial kontemporer. Dengan inspirasi dari tokoh agama lokal dan kesadaran untuk memajukan ekonomi berbasis budaya dan spiritual, mereka membuka jalan bagi pelestarian wisata religi yang inklusif, edukatif, dan berdaya guna bagi masyarakat dan bangsa.
Posting Komentar
0Komentar