PATI — "Wangan Bolek Power!" Slogan penuh energi itu kini terpampang di botol-botol bio-pestisida PESNABOST, inovasi organik dari petani Pati. Lahir dari kolaborasi kearifan lokal dan pendampingan ilmiah, produk ini tak hanya menjawab masalah hama, tetapi juga membawa misi membangun kedaulatan petani.
Di sebuah ruang pertemuan sederhana di Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, semangat untuk bertahan dan berinovasi terasa begitu kuat. Kelompok Tani “Wangan Bolek”, yang namanya dalam bahasa Jawa berarti “pengusir hama”, tak lagi hanya bergantung pada cara-cara konvensional. Kini, mereka meluncurkan sebuah terobosan: PESNABOST, bio-pestisida organik yang dikemas dengan identitas visual modern, siap menyasar hama dengan slogan “Wangan Bolek Power!”.
Produk ini bukan hanya sekadar cairan dalam botol. Ia adalah hasil kolaborasi dan pendampingan intensif antara kelompok tani dengan Farida Rosyadi Imron, seorang alumni ITB Rekayasa Pertanian yang memilih mengabdikan ilmu pascasarjananya untuk membangun kemandirian petani di tanah kelahiran.
“Ini tentang memberdayakan apa yang sudah ada. Kelompok ini punya pengetahuan lokal yang luar biasa tentang ramuan tumbuhan untuk pengendali hama, seperti **kirinyuh, lengkuas, dan daun pepaya muda**. Peran saya adalah membantu mengemas pengetahuan itu menjadi produk yang aman, terstandarisasi, dan memiliki identitas yang kuat di pasar,” jelas Farida.
Lebih dari Sekadar Desain: Membangun Nilai Tambah Melalui Kekayaan Intelektual
Proses pendampingan yang dilakukan Farida melampaui sekadar pembuatan formula. Salah satu fokus utama adalah menciptakan merek dan kemasan yang mampu bercerita dan dilindungi secara hukum. Label PESNABOST dirancang dengan visual yang komunikatif: dominasi warna hijau dan coklat tanah yang menyuarakan “organik”, disertai ilustrasi serangga dan tikus yang dicoret, secara gamblang menyampaikan manfaat produk.
“Dalam persaingan pasar saat ini, desain kemasan yang unik dan terlindungi hak cipta bukan lagi kemewahan, tapi kebutuhan. Ia memberikan nilai tambah dan daya saing yang signifikan,” ujar Farida, merujuk pada penelitian yang menunjukkan pentingnya perlindungan kekayaan intelektual bagi produk pertanian.
Bersama Kelompok Tani Dasa Pakalingan, Farida sedang memproses pendaftaran Hak Cipta untuk desain label dan Merek Dagang untuk nama “PESNABOST”. Langkah ini sejalan dengan semangat pemerintah yang mendorong petani untuk melihat hasil karya mereka sebagai aset intelektual yang bernilai ekonomi, sebagaimana ditunjukkan dalam pameran produk indikasi geografis Indonesia di forum internasional World Intellectual Property Organization (WIPO).
Sinergi Ilmu Pengetahuan dan Kearifan Lokal untuk Pertanian Berkelanjutan
Inovasi PESNABOST mencerminkan prinsip bioteknologi konvensional yang memanfaatkan mikroorganisme dan ekstrak bahan alami melalui proses fermentasi. Pendekatan ini tidak hanya efektif mengendalikan hama tetapi juga menjawab tantangan keberlanjutan pertanian yang menjadi perhatian global.
“Kami ingin membuktikan bahwa pertanian yang produktif dan ramah lingkungan bisa berjalan beriringan. Mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia sintetik adalah salah satu caranya,” tambah Agus Salim, Ketua Kelompok Tani Wangan Bolek, yang juga dikenal aktif dalam inovasi pengolahan limbah cocopit menjadi media tanam bernutrisi.
Kolaborasi seperti ini menjadi kunci dalam membangun sistem pertanian yang tangguh. Program-program pemerintah, seperti Upland Project Kementerian Pertanian, juga bertujuan memperkuat kemitraan dan korporasi petani agar mereka tidak hanya unggul di on-farm, tetapi juga di hilir, termasuk dalam pengemasan dan pemasaran.
Menatap Masa Depan: Dari Desa Pekalongan ke Pasar yang Lebih Luas
Ke depan, Farida dan Kelompok Tani Dasa Pakalingan berencana mendokumentasikan seluruh proses formulasi dan pembuatan PESNABOST dalam sebuah laporan teknis sekaligus sebagai bahan promosi. Mereka berharap produk ini tidak hanya digunakan di sekitar Pati, tetapi dapat menjadi contoh bagi kelompok tani lain di Indonesia.
“Impian besarnya adalah melihat produk-produk inovasi lokal seperti ini tidak hanya memenuhi pasar domestik, tetapi juga bisa dikenal di tingkat internasional, seperti berbagai produk Indikasi Geografis Indonesia lainnya,” pungkas Farida.
Perjalanan PESNABOST dari ide di desa hingga menjadi produk yang terdaftar HKI adalah cerita kecil tentang semangat besar: bahwa kemandirian dan kemajuan pertanian Indonesia bisa dimulai dari kolaborasi tulus antara intelektualitas muda dan kearifan petani yang tak ternilai.
Jurnalis: Agus Salim
Penyelaras: Sundari Subroto
Penyelaras: Sundari Subroto



Posting Komentar
0Komentar