ARTIKEL - Baru-baru ini Menteri Kebudayaan, Fadlizon, menyatakan bahwa asal usul persebaran manusia di seluruh dunia berasal dari Nusantara (Kompas, 28 Oktober 2025). Pernyataan ini menimbulkan perdebatan kuat, termasuk kekhawatiran munculnya etnosentrisme seperti diulas oleh Daud (Kompas, 05 November 2025). Berikut adalah beberapa catatan kritis atas pernyataan dan konteks ini.
Bangsa kita tampak kurang serius dalam mengkaji asal-usul diri dan sejarah manusia secara mendalam. Bahkan para ilmuwan nasional pun cenderung menerima klaim yang disodorkan oleh paradigma arus utama sejarah pengetahuan dunia tanpa kajian kritis yang memadai. Akibatnya, upaya pelacakan asal-usul manusia sering berulang dan bias, serta kurang mampu membangun posisi strategis bangsa ini dalam peradaban dunia.
Teori “Out of Nusantara” yang berupaya menantang teori “Out of Afrika” sejauh ini menjadi arus kecil di tengah arus utama yang besar. Dengan kondisi tersebut, apakah wajar jika narasi ini kurang mendapat perhatian serius? Seharusnya, pendekatan yang diambil bukan sekadar klaim, melainkan proyek penelitian panjang berbasis data lengkap untuk menguji dan mungkin mematahkan teori asal usul manusia dari Afrika. Temuan fosil hominid di Nusantara masih lebih banyak menguatkan teori “Out of Afrika” daripada membalikkan posisi teori ini.
Lebih jauh lagi, ilmuwan nasional kita belum berani melakukan riset DNA manusia purba yang komprehensif untuk menguji teori ini. Konsentrasi sebagian ilmuwan lebih banyak tersita pada urusan politik sejarah kontemporer, seperti pengusulan pahlawan nasional atau manipulasi data sejarah untuk kepentingan kelompok tertentu untuk agenda lima tahunan. Keadaan ini diperparah dengan masih bergantungnya negeri ini pada produk penelitian dan infrastruktur ilmu pengetahuan dari luar negeri.
Apakah kita cukup diam menghadapi narasi besar yang dimainkan oleh Menteri Kebudayaan ini? Kritikan keras dari Daud, seorang arkeolog lulusan UGM, yang menduga narasi ini sebagai bentuk etnosentrisme berlebihan patut diperhatikan agar tidak menjadi hambatan positif bagi peradaban bangsa.
Sebaliknya, bangsa ini seharusnya fokus pada indikator strategis yang mampu menempatkan kita sebagai pemimpin dalam membangun peradaban dunia. Sejarawan mesti menjadi pemandu dalam menyusun peta peradaban Nusantara berdasarkan timeline terukur dan data valid. BRIN yang merupakan pelebaran dari Lembaga Eijkman dan LIPi serta kokunitas riset independen lainnya, tentunya dapat diharapkan.
Kemaritiman, kebencanaan, dan keragaman budaya merupakan potensi besar yang bisa menjadi pijakan kuat bangsa ini. Bangsa ini harus mengembangkan pengetahuan dan rekayasa kemaritiman secara mandiri, bukan sekadar memberi peluang bagi pihak luar untuk menguji produk kemaritiman kita. Kemaritiman bukan hanya soal klaim wilayah kedaulatan, tetapi harus menjadi sumber konstruksi sejarah peradaban dunia.
Begitu pula dengan fenomena kebencanaan, seperti aktivitas vulkanik dan gempa yang merupakan bagian dari Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Mengapa para sejarawan dan arkeolog belum segera mengembangkan peta pengetahuan dan rekayasa kebencanaan yang dapat memberikan manfaat nyata bagi kemaslahatan dan keselamatan bangsa serta dunia? Kebutuhan mengimpor produk informasi dan layanan kebencanaan setiap saat harus menjadi bahan evaluasi serius.
Keragaman bangsa ini juga tidak hanya sekadar kumpulan memori kolektif tentang bahasa, kuliner, seni pertunjukan, lagu, atau mode yang hanya tampil dalam seremonial formal. Keragaman adalah sumber kekayaan budaya yang dapat menjadi fondasi untuk membangun peradaban bangsa yang kokoh. Para sejarawan dan arkeolog perlu menghargai dan membuka diri terhadap manifestasi keragaman ini. Lebih-lebih mengembangkan keragaman menjadi alternatif cara pandang yang disajikan masyarakat global dalam menu platform artificial intelegency.
Sungguh berharap bahwa kajian asal usul manusia di dunia tidak sekadar menjadi komoditas politis atau penguasa kebijakan yang ingin terlihat hebat namun tanpa capaian nyata.
Penulis adalah Guru Sosiologi di SMA N 1 Jakenan

Posting Komentar
0Komentar