CERPEN - Di sebuah ruang referensi berwarna hijau terang, ibu Yan menjadi sosok yang dikenal hampir setiap sudut SMA. Ia bukan hanya penggerak pembelajaran bahasa Indonesia berbasis proyek, melainkan juga pembimbing ketekunan yang memberi makna nyata pada literasi sekolah.
Setiap pagi, ibu Yan datang lebih awal. Suaranya sedikit serak, tetapi tak pernah kehilangan semangat membimbing siswa. “Suaraku habis,” ucapnya tanpa mengeluh saat ditanya akhir-akhir ini. Pekan kemarin, beliau baru saja mengantar seorang murid menjadi juara satu lomba essay di perguruan tinggi negeri Bogor, bukti hasil ketelatenan dan kegigihan bimbingannya.
Kompetensi yang ditawarkan di kelasnya jauh di atas rata-rata. Tak sekadar menguasai teori, siswa pun diharapkan mampu menghasilkan karya nyata seperti cerpen, puisi, dan artikel. Karya-karya tersebut terpajang rapi di perpustakaan, menjadi jejak pencapaian bersama di dunia literasi sekolah.
Sebentar lagi, sekolah akan merayakan HUT ke-40. Karya siswa yang telah dibimbing Bu Yan akan dipanen dan dipamerkan dalam acara besar bulan bahasa—Hari Untaian Kata Sastra (HUzt). Bu Yan layaknya seorang petani yang telah menanam benih kata, kini siap memetik hasil kerja kerasnya dalam bentuk puisi, cerita, dan artikel para murid.
Tak berhenti di kelas, Bu Yan menggagas “Bengkel Sastra”. Ekskul ini menjadi penunjang utama literasi, mewadahi puluhan siswa untuk berlatih menulis dan menerbitkan buku bersama rekan-rekan guru. Jejak perjuangan Bu Yan terpampang dalam puluhan buku dan karya bersama koleganya.
Di ruang sederhana itu, ibu Yan duduk memeriksa tumpukan naskah menjelang HUT sekolah. Ia percaya, suara yang serak dan kelelahan fisik tak akan menghapus api semangat memanen literasi di usia sekolah yang keempat puluh. Bu Yan telah membuktikan, ketekunan sejati adalah benih yang kelak memanen para juara—dan inspirasi abadi bagi generasi penerus.
Penulis: Waseso BS
Sumber berkas: Foto koleksi Penulis, 2025

Posting Komentar
0Komentar