Desa Wisata Kandri Gunungpati: Eksplorasi Singkong dan Produk Kreatif Lokal

Daun dan Biji
By -
0

Gunungpati, Semarang — Desa Wisata Kandri di Gunungpati menawarkan pengalaman berwisata yang berbeda dengan menghadirkan aktivitas khas kehidupan masyarakat desa. Program wisata ini mengajak pengunjung mengenal langsung berbagai kegiatan warga Kandri, mulai dari panen singkong hingga pembuatan kerajinan tas handmade berbahan dasar singkong.

Setiap kunjungan diawali dengan kegiatan panen singkong. Empat orang dari pengunjung diajak mencabut singkong di kebun dan kemudian membawa hasil panen ke tempat olahan. Selanjutnya, peserta diajak berkeliling menggunakan odong-odong atau kereta keliling desa. Wisatawan juga berkesempatan melihat pembuatan tas unik berbahan singkong dengan motif khas seperti Warak Ngendok dan Gereja Blenduk, yang diproduksi oleh UKM setempat.

Selepas kegiatan tersebut, pengunjung diajak menikmati permainan tradisional seperti ehrang dan menikmati kuliner khas desa, seperti sego ketek dan dawet rempah sayur di dekat area kebun singkong dan fasilitas olahraga.

"Kami bertekad mengangkat ekonomi lokal melalui kreativitas dan kekayaan budaya desa," ujar salah satu pengelola Desa Wisata Kandri.

Selain aktivitas harian, pengunjung juga dapat mengikuti program live in yang memberikan pengalaman tinggal bersama warga desa. Salah satu program kreatif yang ditawarkan adalah melukis langsung pada tas singkong, sebagai bagian dari pengembangan seni dan kerajinan lokal.

Menurut Bayu Kuncoro, Desa Wisata Kandri merupakan desa binaan Universitas Negeri Semarang (Unnes) sejak 2012. Namun, geliat program baru terasa sejak 2016 dengan pendampingan intensif dari Unnes, khususnya oleh profesor Teti dan profesor Nana bersama Mas Ansor. Dari Unnes, desa ini mendapatkan berbagai bantuan untuk pengembangan kapasitas dan promosi desa wisata.

Keberadaan Desa Wisata Kandri menjadi contoh pengelolaan potensi desa berbasis pendidikan dan pemberdayaan masyarakat yang berkontribusi pada penguatan ekonomi dan pelestarian budaya lokal.

Penulis: Mas Ibe 

Fotografer: Endah Dipandang Mata

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)