Pati — Suasana hangat menyelimuti Student Center SMA Negeri 1 Jakenan, Senin pagi (26/8), saat dua kelompok siswa kelas XII F 12 melangsungkan diskusi dan debat bertema "Peran Dukun Pijat dalam Membangun Kesehatan Manusia Indonesia vs Praktik Medis Modern". Pembelajaran sosiologi kali ini menjadi ajang unjuk argumentasi yang seru, kritis, namun tetap bersifat edukatif.
Dukun Pijat, Antara Tradisi dan Kearifan Lokal
Kelompok pertama yang tampil sebagai penyaji terdiri dari sembilan siswa, di antaranya Alfiyansyah Sahrul R, Andika W, Galuh Eka I, hingga Murlita Tieya A. Dalam presentasinya, kelompok ini membuka diskusi dengan menyoroti sejarah panjang dukun pijat di masyarakat Indonesia.
"Dukun pijat bukan sekadar profesi, melainkan bagian dari kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun," jelas Najima Aulia, salah satu penyaji. Kelompok ini juga mengupas pengetahuan dasar dukun, praktik pijat tradisional yang dipadukan dengan doa, serta produk alami seperti jamu dan minyak urut yang dipercaya mampu membantu pemulihan kesehatan.
Tak hanya itu, kelompok penyaji menekankan peran penting dukun pijat dalam memberikan sentuhan personal, membangun kedekatan emosional dengan pasien, serta mudah dijangkau masyarakat pedesaan.
Sanggahan Tajam dari Medis Modern
Diskusi makin hidup saat kelompok kedua, yang terdiri dari sembilan siswa lain seperti Claricha Dinda A, Dewanti A.K., hingga Yogi Firmansyah N.H., mulai menyampaikan sanggahan. Mereka menawarkan alternatif melalui praktik medis modern.
"Pengobatan medis modern didasarkan pada ilmu pengetahuan dan penelitian ilmiah yang teruji, dengan prosedur jelas serta tenaga ahli di bidangnya," papar Fikar Ahmed D. Kelompok sanggahan juga menyoroti keunggulan medis modern yang mampu memberi penanganan cepat dan terukur, penggunaan alat canggih, serta adanya pengawasan dokter spesialis.
Dalam penjelasannya, tim penyanggah menyebut fisioterapi sebagai contoh layanan medis modern yang lebih aman. Dibanding pijat tradisional yang belum tentu distandarisasi, tindakan fisioterapi dilakukan oleh tenaga profesional bersertifikasi, menggunakan metode berbasis bukti ilmiah, serta fokus pada rehabilitasi fungsi tubuh.
Argumen, Rebutan, dan Kompromi
Debat berlangsung seru, dengan kedua kelompok saling bertukar argumen. Kelompok penyaji mempertahankan nilai budaya dan kepraktisan dukun pijat, sementara kelompok penyanggah menyerukan pentingnya keselamatan pasien dan jaminan hasil dari praktik berbasis medis.
Diskusi tak hanya menjadi ajang adu pendapat, tapi juga momen pembelajaran kritis. "Saya jadi paham, penting sekali menyeimbangkan pengetahuan tradisional dan medis modern. Kadang, masyarakat masih sulit menerima perubahan, padahal teknologi sudah sangat maju," ujar Dwi Windarti, salah satu peserta debat.
Suasana Interaktif dan Inklusif
Guru mata pelajaran sosiologi turut mengomentari jalannya debat, mengapresiasi antusiasme siswa dalam menyampaikan pendapat dan mendengarkan pandangan berbeda.
"Saya bangga dengan semangat belajar kalian. Debat ini membuktikan bahwa dengan dialog terbuka, kita bisa memahami berbagai perspektif, mengasah empati, serta membangun pengetahuan yang lebih utuh soal kesehatan masyarakat," pungkas sang guru.
Pembelajaran sosiologi kali ini membekas di ingatan para siswa. Tak hanya menambah wawasan soal tradisi lokal dan perkembangan teknologi medis, mereka juga belajar bahwa perbedaan pendapat adalah bagian esensial dari proses pendidikan. Begitulah wajah pendidikan di Student Center SMAN 1 Jakenan hari ini: ceria, kritis, dan penuh inspirasi.
Sumber: Berkas foto milik SMANJA, 2015
Posting Komentar
0Komentar