PASURUAN,* Di sebuah sudut lereng Gunung Penanggungan, sebuah komunitas yang menamakan diri mereka "Maiyah Sulthon Penanggungan" berkumpul bukan untuk urusan politik atau ambisi kekuasaan. Mereka hadir untuk sebuah perayaan yang lebih sunyi namun mendalam: merayakan ulang tahun ke-73 Emha Ainun Nadjib, atau yang akrab disapa Mbah Nun.
Dalam sebuah dokumentasi video yang diunggah baru-baru ini, terpancar bagaimana sosok Mbah Nun telah menjadi oase spiritual dan intelektual bagi berbagai lapisan masyarakat, mulai dari petani, buruh keamanan, hingga dosen. Mereka berbagi kisah tentang bagaimana persentuhan dengan pemikiran Mbah Nun telah mengubah cara mereka memandang hidup.
### **Oase di Tengah Kegaduhan**
Bagi **Muh. Masyhudi Luthfi**, seorang dosen yang telah mengenal Maiyah sejak tahun 2000, komunitas ini adalah ruang belajar yang unik. "Maiyah adalah ruang belajar bersama yang digerakkan oleh nilai, bukan paksaan," ujarnya. Senada dengan Luthfi, **Abdul Rochman**, seorang guru, menekankan bahwa rasa kekeluargaan dan kedalaman ilmu di Maiyah-lah yang membuatnya bertahan selama hampir dua dekade.
Kisah menarik datang dari **Moch. Ulum**, seorang pengamen kafe. Ia menemukan Maiyah melalui YouTube pada tahun 2015, sesaat setelah kehilangan ayahnya. Baginya, petuah-petuah Mbah Nun hadir sebagai pengganti energi orang tua yang hilang, memberikan nasihat yang menenangkan di tengah masa sulit.
### **Transformasi Diri dan Sosial**
Maiyah bukan sekadar tempat berkumpul. Bagi para pegiatnya, ini adalah laboratorium transformasi diri. **Taufiqurohman**, seorang karyawan swasta, merasakan bagaimana beragama menjadi lebih indah dan menggembirakan setelah bersentuhan dengan Maiyah. Ia mengaku kini memiliki keinginan kuat untuk selalu berbuat baik bagi keluarga dan masyarakat sekitarnya.
Sementara itu, **Suliono** atau yang akrab disapa Sule, seorang pedagang, menceritakan pengalamannya dengan penuh emosional. Sambil meneteskan air mata, ia mengenang bagaimana Maiyah menemaninya saat ia berada di titik terendah dalam hidup. "Kangen pol Mbah, saestu (Rindu sekali Mbah, sungguh)," ucapnya dengan suara bergetar.
### **Harapan untuk Masa Depan**
Harapan besar digantungkan oleh para pegiat untuk masa depan Maiyah. **Jasmani**, seorang petani, berharap agar jamaah Maiyah bisa menjadi "cahaya" di lingkup terkecil mereka masing-masing. Mereka ingin Maiyah tetap menjadi ruang belajar yang merdeka, tanpa tekanan dari pihak manapun, dan terus mencerdaskan bangsa melalui cinta kasih.
Acara yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan ucapan selamat dari berbagai simpul Maiyah di wilayah Jawa Timur, mulai dari Lamongan, Rembang, hingga Mojokerto. Mereka semua sepakat bahwa merawat apa yang telah ditanam oleh Mbah Nun adalah tugas bersama untuk masa depan kemanusiaan yang lebih baik.