Selamatkan "Pranata Banyu" dari Kepunahan, Siswa SMAN 1 Jakenan Rancang Strategi Revitalisasi di Desa Dasun

Kunjungan Lapangan

RISET SMANJA 
– Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan kekayaan kearifan lokal pesisir yang melimpah. Sayangnya, narasi agraris yang dominan sering kali membuat pengetahuan maritim ini tenggelam dan perlahan dilupakan. Salah satu warisan berharga yang kini terancam punah adalah "Pranata Banyu", sebuah sistem pengetahuan tradisional masyarakat pesisir di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang.

Merespons ancaman kepunahan tersebut, Tim Nerisea dari SMA Negeri 1 Jakenan, Kabupaten Pati, yang terdiri dari Rindy Setyawati dan Saskia Nely Agatha, tergerak untuk melakukan penelitian tindakan partisipatif. Melalui ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026 bidang Ilmu Sosial dan Humaniora, mereka menggagas proposal penelitian bertajuk "Revitalisasi dan Dokumentasi Pranata Banyu: Kearifan Lokal Maritim Masyarakat Pesisir Desa Dasun dalam Menghadapi Perubahan Iklim dan Modernisasi".

Inisiatif penelitian ini mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah. Kepala SMAN 1 Jakenan, Rumaji, M.Si., menyampaikan apresiasinya terhadap kepekaan siswanya dalam mengangkat isu kearifan lokal yang relevan dengan tantangan lingkungan saat ini.

"Kami sangat mendukung langkah Tim Nerisea. Ini bukan sekadar penelitian untuk kompetisi, tetapi wujud nyata kepedulian generasi muda terhadap warisan budaya dan isu perubahan iklim. Pranata Banyu adalah aset bangsa yang harus diselamatkan," ujar Rumaji.

Dukungan senada juga diungkapkan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Mashuri, M.Si. Menurutnya, penelitian ini sejalan dengan visi pendidikan karakter yang diterapkan di SMAN 1 Jakenan. "Melalui penelitian ini, siswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi terjun langsung ke masyarakat, memecahkan masalah nyata, dan belajar menghargai pengetahuan tradisional yang terbukti mampu menjaga keseimbangan alam," tuturnya.

Mengenal Pranata Banyu

Berbeda dengan "Pranata Mangsa" yang mengatur siklus pertanian di darat, Pranata Banyu adalah kompas bagi masyarakat pesisir. Sistem ini mengatur aktivitas nelayan, petani garam, dan pembudidaya ikan berdasarkan siklus air, musim, angin, bintang, serta ekosistem tambak, sungai, dan laut.

Selama ratusan tahun, Pranata Banyu telah menjadi panduan hidup masyarakat Desa Dasun, hingga mengantarkan desa tersebut ditetapkan sebagai Desa Budaya Nasional pada tahun 2024. Namun, derasnya arus modernisasi membuat generasi muda mulai meninggalkan pengetahuan ini.

Di sisi lain, kawasan pesisir utara Jawa, termasuk Rembang, tengah menghadapi ancaman serius berupa abrasi dan banjir rob. Data menunjukkan, antara tahun 2009 hingga 2019, wilayah Rembang telah kehilangan daratan seluas 15,08 hektar. Dalam kondisi kritis ini, Pranata Banyu yang memiliki kemampuan membaca tanda-tanda alam diyakini dapat menjadi kunci adaptasi dan mitigasi bencana yang berkelanjutan.

Bukan Sekadar Dokumentasi, Tapi Aksi Nyata

Rindy Setyawati, salah satu anggota Tim Nerisea, menjelaskan bahwa penelitian mereka tidak hanya akan berhenti pada tahap pendokumentasian. "Penelitian sebelumnya sudah berhasil memotret konsep-konsep kunci Pranata Banyu. Namun, kami ingin melangkah lebih jauh. Fokus kami adalah aksi nyata, merancang strategi revitalisasi dan model dokumentasi yang aplikatif dan partisipatif," jelas Rindy.

Penelitian yang direncanakan berlangsung selama lima bulan (April - Agustus 2026) ini akan menggunakan metode Participatory Action Research (PAR). Tim Nerisea akan berkolaborasi langsung dengan masyarakat Desa Dasun melalui serangkaian Focus Group Discussion (FGD) dan lokakarya kreatif.

Saskia Nely Agatha menambahkan, tujuan utama dari penelitian ini adalah merancang pemodelan sosialisasi yang mudah diterima oleh generasi muda. "Kami akan mengembangkan prototipe model dokumentasi yang inovatif, mungkin dalam bentuk buku saku digital atau video dokumenter, yang disepakati bersama oleh komunitas. Harapannya, pengetahuan ini tidak hanya tersimpan di perpustakaan, tetapi hidup dan dipraktikkan kembali," papar Saskia.

Melalui langkah konkret ini, Tim Nerisea SMAN 1 Jakenan berharap dapat menjembatani jurang antara pengetahuan tradisional dan generasi modern, sekaligus menawarkan solusi berbasis kearifan lokal dalam menghadapi ancaman perubahan iklim di pesisir utara Jawa.

Jurnalis: Lintang Malintang
Penyelaras: Rilo 
Fotografer: Purbaya

Posting Komentar