Gabungkan IoT dan Pertanian Organik, Siswi SMAN 1 Jakenan Uji Efektivitas Panen Padi di Pati

Kunjungan Lapangan


RISET SMANJA
– Ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan menjadi tantangan krusial di tengah ancaman perubahan iklim dan penurunan kualitas tanah akibat penggunaan pupuk kimia. Merespons hal tersebut, Tim Niravita dari SMA Negeri 1 Jakenan, Kabupaten Pati, mengusung inovasi pertanian presisi yang menggabungkan teknologi Internet of Things (IoT) dengan metode budidaya padi organik intensif.

Melalui ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026, dua siswi SMAN 1 Jakenan, Rahma Pravitasari dan Jamilatun Ni’mah, mengajukan penelitian bertajuk "Komparasi Efektivitas Teknologi Monitoring (IoT, Manual, dan Kombinasi) dalam Budidaya Padi Organik Intensif untuk Optimalisasi Pertumbuhan dan Hasil Padi (Oryza sativa L.) Varietas Inpari 32".

Penelitian ini bertujuan untuk mematahkan stigma bahwa pertanian organik selalu menghasilkan panen yang lebih rendah dibandingkan pertanian konvensional, sekaligus mencari metode pengawasan lahan yang paling efisien bagi petani.

Kepala SMAN 1 Jakenan, Rumaji, M.Si., menyatakan dukungannya terhadap langkah inovatif para siswanya. Menurutnya, penelitian ini merupakan bukti bahwa generasi muda mampu memberikan solusi nyata bagi persoalan di sekitarnya.

"Kami sangat bangga dengan inisiatif Tim Niravita. Mereka tidak hanya peka terhadap isu ketahanan pangan dan lingkungan, tetapi juga mampu mengaplikasikan teknologi kekinian seperti IoT ke dalam sektor pertanian. Ini adalah bentuk nyata dari pendidikan yang membumi dan bermanfaat langsung bagi masyarakat," ungkap Rumaji.

Dukungan serupa juga datang dari Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan sekaligus Ketua Program Pemajuan Riset Sekolah, Hanik, S.Si. Ia menilai penelitian ini sangat komprehensif karena memadukan ilmu biologi, teknologi informasi, dan statistika.

"Sebagai sekolah yang fokus pada pemajuan riset, kami memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis dan solutif. Penelitian Tim Niravita ini sangat strategis karena menguji efektivitas teknologi tepat guna yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani, khususnya di Kabupaten Pati yang merupakan salah satu lumbung padi nasional," tutur Hanik.

Eksperimen di Lahan Sentra Padi

Penelitian ini akan dilaksanakan selama lima bulan (April - Agustus 2026) di lahan sawah milik seorang petani bernama Pak Subi di Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. Lokasi ini dipilih karena Kecamatan Winong sebelumnya telah sukses mencatatkan hasil panen padi mencapai 10,28 ton per hektare pada Februari 2026 melalui metode organik dan pendampingan intensif.

Rahma Pravitasari menjelaskan, penelitian ini menggunakan metode System of Rice Intensification (SRI) dengan benih padi varietas Inpari 32 yang dikenal unggul dan tahan penyakit.

"Kami membagi lahan menjadi 12 petak percobaan untuk membandingkan empat perlakuan berbeda. Pertama, pemantauan sepenuhnya menggunakan sensor IoT untuk suhu, kelembaban, dan pH tanah. Kedua, pemantauan manual. Ketiga, kombinasi IoT dan manual. Dan keempat, sebagai kontrol, kami menggunakan metode pertanian konvensional dengan pupuk kimia," papar Rahma.

Jamilatun Ni’mah menambahkan bahwa penggunaan sensor IoT diharapkan dapat memberikan data yang real-time dan akurat, sehingga perawatan tanaman menjadi lebih presisi.

"Hipotesis kami, metode budidaya organik intensif yang dipantau dengan IoT akan menghasilkan pertumbuhan dan kualitas panen terbaik, baik dari segi berat gabah, warna beras, hingga rasa dan tekstur nasi. Kami ingin membuktikan bahwa bertani organik itu bisa modern, efisien, dan menguntungkan," jelas Jamilatun.

Hasil akhir dari penelitian ini nantinya tidak hanya diukur dari kuantitas panen, tetapi juga kualitas beras yang dihasilkan melalui serangkaian uji laboratorium dan uji organoleptik (rasa dan aroma).

Melalui riset ini, Tim Niravita SMAN 1 Jakenan berharap dapat memberikan panduan praktis dan bukti ilmiah bagi para petani di Indonesia untuk mulai beralih ke sistem pertanian organik yang modern, ramah lingkungan, dan berproduktivitas tinggi.

Jurnalis: Lintang Malintang 
Fotografer: Mustaqim
Penyelaras: Rilo 

Posting Komentar