SMAN 1 Jakenan Matangkan Langkah Menuju Adiwiyata Nasional

Kunjungan Lapangan

JAKENAN
— SMA Negeri 1 Jakenan, Kabupaten Pati, terus mematangkan langkah untuk menjadi sekolah Adiwiyata tingkat nasional. Upaya itu tidak hanya diwujudkan melalui pembiasaan menjaga kebersihan sekolah, tetapi juga lewat penguatan kurikulum, pengelolaan sampah, pengembangan pupuk organik, hingga penataan taman kelas yang melibatkan warga sekolah secara berkelanjutan.

Kepala SMAN 1 Jakenan Rumaji, M.Si mengatakan, gerakan Adiwiyata di sekolahnya dirancang bukan sekadar untuk memenuhi penilaian administratif, melainkan sebagai langkah strategis membangun budaya sekolah yang peduli lingkungan. Menurut dia, SMAN 1 Jakenan memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi sekolah Adiwiyata tingkat nasional.

“Kami melihat SMAN 1 Jakenan memiliki potensi besar untuk menjadi sekolah Adiwiyata tingkat nasional. Gerakan ini kami inisiasi sebagai upaya membangun sekolah yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga kuat dalam budaya peduli lingkungan,” ujar Rumaji, M.Si.

Arah itu sejalan dengan visi sekolah yang menempatkan wawasan lingkungan hidup sebagai salah satu fondasi pengembangan pendidikan. Dalam studi akademik yang disusun untuk mendukung penguatan program, SMAN 1 Jakenan dinilai memiliki modal yang cukup kuat, mulai dari dukungan kelembagaan, struktur kader Adiwiyata, hingga potensi inovasi lingkungan berbasis pelajar.

Pada 2026, sekolah ini resmi mengukuhkan 267 siswa sebagai Kader Adiwiyata yang terbagi ke dalam 12 kelompok kerja. Struktur tersebut mencakup bidang kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, mitigasi bencana, konservasi energi dan air, keanekaragaman hayati, literasi lingkungan, riset dan inovasi, hingga kewirausahaan hijau.

Penguatan gerakan Adiwiyata di SMAN 1 Jakenan juga dilakukan melalui pendekatan pembelajaran di kelas. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Mashuri, M.Si menegaskan, pendidikan lingkungan tidak berdiri sebagai kegiatan tambahan, melainkan dikontekstualisasikan ke dalam kurikulum sekolah.

“Adiwiyata kami kontekstualisasikan dalam kurikulum sekolah melalui program P5, khususnya kegiatan Pupuk Organik dan Pupuk Cair, kemudian program kompos, serta lomba taman kelas. Dengan cara itu, nilai kepedulian lingkungan tidak berhenti sebagai teori, tetapi menjadi pengalaman belajar yang nyata bagi siswa,” kata Mashuri, M.Si.

Ia menjelaskan, integrasi tersebut penting agar siswa tidak hanya memahami isu lingkungan secara konseptual, tetapi juga mampu mempraktikkan solusi sederhana di lingkungan sekolah. Program P5, misalnya, diarahkan agar siswa mengenali siklus sampah organik dan manfaatnya ketika diolah kembali menjadi produk yang bernilai guna.

Selain itu, lomba taman kelas dinilai menjadi cara efektif untuk membangun tanggung jawab kolektif antarsiswa. Melalui program tersebut, setiap kelas didorong untuk menata, merawat, dan menjaga area hijau masing-masing sehingga muncul budaya kompetitif yang sehat sekaligus mendukung estetika sekolah.

Di tingkat pelaksanaan, Ketua Program Sekolah Adiwiyata Siswato, S.Pd menyebut program menuju sekolah Adiwiyata dijalankan melalui kerja terstruktur dan pembiasaan sehari-hari. Ia menilai keberhasilan program lingkungan di sekolah sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan, bukan semata pada perencanaan.

“Kami berada pada posisi pelaksana program menuju sekolah Adiwiyata. Karena itu, yang kami dorong adalah kerja nyata di lapangan, mulai dari pembiasaan kebersihan, pengelolaan sampah, pengolahan kompos, sampai keterlibatan siswa dalam merawat lingkungan sekolah secara rutin,” ujar Siswato, S.Pd.

Sejumlah inisiatif yang telah berkembang di SMAN 1 Jakenan antara lain pengelolaan sampah, pengembangan kompos, pemanfaatan pupuk cair, budidaya tanaman, serta penguatan budaya lingkungan di lingkungan sekolah.

Dalam studi akademik sekolah, langkah-langkah tersebut dinilai relevan dengan tantangan ekologis di wilayah Jakenan yang menghadapi persoalan banjir, kekeringan, dan pengelolaan sampah.

Sekolah juga dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan program lingkungan berbasis riset dan inovasi. Kajian akademik menyebut, SMAN 1 Jakenan mempunyai fondasi yang kuat untuk bergerak dari sekadar sekolah bersih dan hijau menjadi pusat inovasi ekologis berbasis pelajar, terutama karena didukung oleh struktur kader yang luas dan potensi kolaborasi dengan masyarakat sekitar.

Bagi SMAN 1 Jakenan, gerakan Adiwiyata bukan hanya soal penghargaan, tetapi juga tentang membentuk karakter siswa. Melalui pembiasaan yang terus diulang dalam kegiatan belajar maupun aktivitas sekolah, kesadaran lingkungan diharapkan tumbuh menjadi bagian dari identitas warga sekolah.

Dengan dukungan pimpinan sekolah, penguatan kurikulum, dan pelaksanaan program yang terus berjalan, SMAN 1 Jakenan menegaskan keseriusannya menapaki jalan menuju Adiwiyata nasional. Jika konsistensi itu terjaga, sekolah ini tidak hanya berpeluang meraih predikat Adiwiyata tingkat nasional, tetapi juga menjadi contoh bagaimana pendidikan lingkungan dapat dihidupkan dari ruang kelas hingga budaya sekolah sehari-hari.  

Jurnalis: Lintang Malintang
Penyelaras: Rilo 
Fotografer: Bagus Sujana

Posting Komentar