Latihan Soal Ujian Sekolah Mapel Sosiologi Part 1

Daun dan Biji
By -
0


Soal 1

Sebuah kelompok siswa kelas XI IPS mendapat tugas untuk melakukan proyek mini-riset sosiologi dengan tema "Sosiolog di Sekitar Kita". Langkah pertama yang harus mereka lakukan adalah mengidentifikasi satu gejala sosial yang terjadi di lingkungan sekolah untuk dijadikan topik penelitian. Mereka melakukan observasi awal selama jam istirahat dan mencatat beberapa fenomena berikut: (1) Sebagian besar siswa membeli jajanan di kantin; (2) Munculnya kelompok-kelompok belajar kecil menjelang ujian; (3) Beberapa siswa secara konsisten mengenakan aksesoris dari merek mewah tertentu yang tidak diwajibkan sekolah; (4) Siswa berjalan di koridor saat pergantian jam pelajaran; (5) Seorang guru sedang memberikan nasihat kepada siswa di ruang BK. Berdasarkan definisi gejala sosial sebagai pola perilaku yang melibatkan interaksi, memiliki makna sosial, dan berpotensi menunjukkan adanya struktur atau proses sosial yang lebih luas, fenomena manakah yang paling tepat untuk diangkat sebagai topik penelitian sosiologi karena paling kaya akan makna dan interaksi sosial? A. Sebagian besar siswa membeli jajanan di kantin. B. Munculnya kelompok-kelompok belajar kecil menjelang ujian. C. Beberapa siswa secara konsisten mengenakan aksesoris dari merek mewah tertentu. D. Siswa berjalan di koridor saat pergantian jam pelajaran. E. Seorang guru memberikan nasihat kepada siswa di ruang BK.

Jawaban Soal 1: Jawaban yang Benar: C. Beberapa siswa secara konsisten mengenakan aksesoris dari merek mewah tertentu.

Soal 2 Kelompok riset yang dipimpin oleh Anisa tertarik untuk meneliti fenomena bullying di sekolah mereka. Setelah melakukan observasi awal dan diskusi, mereka menemukan bahwa bullying tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga verbal (ejekan nama) dan sosial (pengucilan). Mereka juga menyadari bahwa tindakan ini sering kali terjadi di area yang minim pengawasan guru dan melibatkan relasi kuasa antara senior dan junior atau antara kelompok populer dan yang tidak populer. Mereka ingin merumuskan masalah penelitian yang fokus dan dapat diteliti. Dengan mempertimbangkan prinsip perumusan masalah penelitian yang baik (spesifik, terukur, relevan, dan dapat diteliti dalam batasan waktu), rumusan masalah manakah yang paling tepat untuk diterapkan oleh kelompok Anisa dalam proyek mini-riset mereka? A. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan bullying terjadi di seluruh dunia? B. Bagaimana cara menghentikan semua bentuk bullying di sekolah secara permanen? C. Mengapa bullying merupakan tindakan yang tidak baik dan harus dihindari? D. Bagaimana bentuk-bentuk bullying verbal dan sosial terjadi di kalangan siswa kelas X dan apa dampaknya terhadap interaksi sosial mereka di sekolah? E. Apakah hukuman yang diberikan sekolah sudah cukup efektif untuk menangani pelaku bullying?


Jawaban Soal 2: Jawaban yang Benar: D. Bagaimana bentuk-bentuk bullying verbal dan sosial terjadi di kalangan siswa kelas X dan apa dampaknya terhadap interaksi sosial mereka di sekolah?

Soal 3

Sebuah kelompok siswa mengamati tren penggunaan media sosial TikTok di kalangan teman-teman mereka. Mereka melihat fenomena ini dari berbagai sisi. Di satu sisi, TikTok digunakan sebagai sarana mengekspresikan kreativitas dan bahkan untuk membahas materi pelajaran melalui konten edukasi. Di sisi lain, mereka melihat adanya tekanan sosial untuk mengikuti challenge atau tren tertentu agar dianggap "gaul" dan populer. Fenomena ini juga terkadang memicu persaingan antar siswa untuk mendapatkan jumlah likes dan followers terbanyak, yang berujung pada kecemasan sosial bagi sebagian siswa. Kelompok ini ingin memilih sudut pandang sosiologis yang paling kritis dan relevan untuk diangkat menjadi masalah penelitian.

Dari kompleksitas fenomena penggunaan TikTok tersebut, masalah penelitian manakah yang menunjukkan tingkat penalaran sosiologis paling tinggi karena mampu mengaitkan tindakan individu (bermain TikTok) dengan struktur sosial yang lebih besar (status sosial dan stratifikasi di lingkungan sekolah)?

A. Seberapa sering siswa di sekolah menggunakan aplikasi TikTok dalam sehari?
B. Apa saja jenis konten video TikTok yang paling populer di kalangan siswa?
C. Bagaimana penggunaan TikTok menjadi arena baru untuk pembentukan dan perebutan status sosial di kalangan siswa?
D. Apakah ada hubungan antara penggunaan TikTok dengan prestasi akademik siswa di kelas?
E. Bagaimana cara membuat konten edukasi yang viral di TikTok?

Jawaban Soal 3: Jawaban yang Benar: C. Bagaimana penggunaan TikTok menjadi arena baru untuk pembentukan dan perebutan status sosial di kalangan siswa?

Soal 4

Sebuah kelompok riset mengamati fenomena "geng belajar" di sekolah mereka. Mereka menemukan ada dua tipe utama: pertama, kelompok belajar yang sangat eksklusif, hanya terdiri dari siswa-siswa peringkat teratas di kelas yang fokus mengejar nilai sempurna dan sering kali enggan berbagi catatan dengan siswa di luar kelompoknya. Kedua, ada kelompok belajar yang lebih terbuka, terbentuk karena kesamaan hobi (misalnya, sama-sama suka K-Pop) dan menggunakan kegiatan belajar sebagai ajang bersosialisasi. Kelompok ini diminta untuk melakukan kajian pustaka dan menganalisis fenomena ini dari dua perspektif sosiologi yang berbeda.

Bagaimana perspektif Fungsionalisme Struktural dan Teori Konflik akan menginterpretasikan fenomena "geng belajar" tersebut secara berbeda?

A. Fungsionalisme melihat geng belajar sebagai cara siswa beradaptasi dengan tuntutan akademis, sementara Teori Konflik melihatnya sebagai bentuk perlawanan terhadap otoritas guru.
B. Fungsionalisme fokus pada bagaimana geng belajar menciptakan stratifikasi baru, sedangkan Teori Konflik menyoroti fungsi geng belajar dalam menjaga stabilitas kelas.
C. Fungsionalisme akan menyoroti bagaimana geng belajar (baik yang eksklusif maupun terbuka) berfungsi untuk membantu siswa mencapai tujuan akademis dan sosial, sehingga menjaga keseimbangan sistem kelas. Sebaliknya, Teori Konflik akan fokus pada bagaimana geng belajar eksklusif menjadi alat bagi kelompok dominan (siswa pintar) untuk mempertahankan keunggulan dan sumber daya (pengetahuan) dari kelompok lain.
D. Fungsionalisme akan mengkritik geng belajar sebagai penyebab perpecahan, sementara Teori Konflik akan melihatnya sebagai sarana integrasi sosial antar siswa.
E. Fungsionalisme dan Teori Konflik sama-sama melihat geng belajar sebagai hasil dari interaksi simbolik antar individu yang mencari makna dalam kegiatan belajar mereka.

Jawaban Soal 4: Jawaban yang Benar: C. Fungsionalisme akan menyoroti bagaimana geng belajar (baik yang eksklusif maupun terbuka) berfungsi untuk membantu siswa mencapai tujuan akademis dan sosial, sehingga menjaga keseimbangan sistem kelas. Sebaliknya, Teori Konflik akan fokus pada bagaimana geng belajar eksklusif menjadi alat bagi kelompok dominan (siswa pintar) untuk mempertahankan keunggulan dan sumber daya (pengetahuan) dari kelompok lain.

Soal 5

Dalam tahap kajian pustaka, seorang siswa bernama Budi meneliti peraturan sekolah tentang tata tertib penampilan, seperti larangan rambut gondrong bagi siswa laki-laki, larangan memakai riasan berlebih bagi siswi perempuan, dan kewajiban memakai seragam yang rapi. Ia menemukan dua artikel daring: Artikel pertama, dari situs berita pendidikan, menjelaskan bahwa peraturan ini penting untuk menjaga kedisiplinan, keseragaman, dan fokus belajar siswa. Artikel kedua, dari sebuah blog studi budaya, berargumen bahwa peraturan tersebut sebenarnya adalah alat kontrol untuk mereproduksi standar gender dan kelas sosial tertentu, serta membatasi ekspresi diri individu.

Berdasarkan dua sumber yang ditemukan Budi, analisis yang paling menunjukkan kemampuan penalaran sosiologis tingkat tinggi adalah dengan menyimpulkan bahwa kedua artikel tersebut secara implisit menggunakan dua perspektif yang bertentangan. Perspektif apakah yang paling sesuai untuk menjelaskan argumen dari Artikel Pertama dan Artikel Kedua secara berurutan?

A. Interaksionisme Simbolik dan Teori Konflik
B. Fungsionalisme Struktural dan Teori Konflik
C. Teori Konflik dan Fungsionalisme Struktural
D. Fungsionalisme Struktural dan Interaksionisme Simbolik
E. Interaksionisme Simbolik dan Fungsionalisme Struktural

Jawaban Soal 5: Jawaban yang Benar: B. Fungsionalisme Struktural dan Teori Konflik

Soal 6
Sebuah kelompok riset ingin meneliti tentang "Dampak Penggunaan Media Sosial terhadap Kesejahteraan Psikologis Siswa". Mereka berencana membuat kuesioner singkat untuk mengumpulkan data awal. Setelah berdiskusi, mereka menyusun tiga pertanyaan pertama seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini.
Dalam merancang instrumen penelitian, seorang peneliti harus menghindari pertanyaan yang bersifat leading (mengarahkan), ganda (double-barreled), dan ambigu. Dari tiga rancangan pertanyaan di atas, manakah yang paling perlu direvisi karena mengandung kelemahan metodologis yang signifikan? A. Pertanyaan 1, karena bersifat leading dengan menyiratkan bahwa media sosial itu "tidak baik" dan "membuat cemas", sehingga mengarahkan responden untuk setuju. B. Pertanyaan 2, karena pilihan jawaban yang diberikan tidak mencakup semua kemungkinan (misalnya, ada siswa yang tidak menggunakan media sosial sama sekali). C. Pertanyaan 3, karena menggunakan istilah emosional seperti "iri" dan "cemas" yang mungkin sulit diukur secara objektif oleh responden. D. Semua pertanyaan sudah baik dan tidak perlu direvisi karena mudah dipahami oleh siswa. E. Pertanyaan 1 dan 3, karena keduanya menggunakan asumsi negatif tentang media sosial.

Jawaban Soal 6: Jawaban yang Benar: A. Pertanyaan 1, karena bersifat leading dengan menyiratkan bahwa media sosial itu "tidak baik" dan "membuat cemas", sehingga mengarahkan responden untuk setuju. Soal 7 Seorang peneliti sosiologi dari universitas lokal melakukan survei awal di sebuah SMA untuk memahami partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler. Salah satu data yang ia kumpulkan adalah alasan utama siswa mengikuti acara pentas seni (pensi) tahunan sekolah. Hasilnya disajikan dalam grafik batang berikut.
Berdasarkan data tersebut, peneliti ingin merancang beberapa pertanyaan wawancara mendalam untuk menggali lebih lanjut fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang tampaknya menjadi alasan tertinggi. Ia ingin memahami makna sosial di balik perilaku tersebut. Dengan tujuan untuk memahami makna subjektif dan proses sosial di balik data kuantitatif tersebut, pertanyaan wawancara manakah yang paling menunjukkan kemampuan penalaran sosiologis untuk menggali fenomena FOMO secara mendalam? A. "Apakah Anda merasa takut ketinggalan jika tidak ikut pensi?" B. "Menurut Anda, mengapa 40% siswa memilih FOMO sebagai alasan utama?" C. "Coba ceritakan, apa yang Anda rasakan atau pikirkan ketika melihat teman-teman Anda mem-posting keseruan acara pensi di media sosial, sementara Anda tidak berada di sana? Pengalaman seperti apa yang membuat Anda memutuskan untuk harus ikut serta tahun ini?" D. "Berapa banyak teman Anda yang juga ikut pensi karena alasan takut ketinggalan?" E. "Apakah menurut Anda acara pensi tahun ini lebih baik dari tahun lalu?" Jawaban Soal 7: Jawaban yang Benar: C. "Coba ceritakan, apa yang Anda rasakan atau pikirkan ketika melihat teman-teman Anda mem-posting keseruan acara pensi di media sosial, sementara Anda tidak berada di sana? Pengalaman seperti apa yang membuat Anda memutuskan untuk harus ikut serta tahun ini?"

Soal 8 Sebuah kelompok siswa melakukan riset sederhana untuk melihat dampak awal dari program "Makan Bergizi Gratis (MBG)" yang telah berjalan selama 3 bulan di sekolah mereka. Mereka berhasil mengumpulkan data dari guru dan survei kecil kepada sesama siswa, lalu menyajikannya dalam tabel perbandingan berikut:
Berdasarkan data yang tersaji pada tabel tersebut, deskripsi temuan utama manakah yang paling akurat dan komprehensif untuk disajikan oleh kelompok siswa tersebut dalam laporan penelitian mereka? A. Program MBG telah berhasil meningkatkan rata-rata kehadiran siswa sebesar 11% dan membuat siswa merasa lebih berenergi. B. Setelah 3 bulan program MBG, terjadi peningkatan signifikan pada rata-rata kehadiran siswa (dari 85% menjadi 96%), tingkat konsentrasi belajar di kelas (dari 55% menjadi 85%), dan persentase siswa yang merasa lebih berenergi (dari 30% menjadi 75%). C. Program MBG menyebabkan perubahan pola interaksi sosial siswa saat jam istirahat, dari yang tadinya individual menjadi lebih komunal. D. Peningkatan terbesar setelah adanya program MBG adalah pada tingkat konsentrasi siswa di kelas, yang naik sebesar 30%. E. Kehadiran siswa meningkat, dan interaksi sosial saat jam istirahat menjadi lebih cair karena adanya program makan bersama.
Jawaban Soal 8: Jawaban yang Benar: B. Setelah 3 bulan program MBG, terjadi peningkatan signifikan pada rata-rata kehadiran siswa (dari 85% menjadi 96%), tingkat konsentrasi belajar di kelas (dari 55% menjadi 85%), dan persentase siswa yang merasa lebih berenergi (dari 30% menjadi 75%). Analisis Pilihan B: Pilihan ini adalah yang paling unggul karena memenuhi semua kriteria deskripsi temuan yang baik. Pertama, ia komprehensif, menyebutkan semua indikator kuantitatif yang ada di tabel. Kedua, ia akurat, menyajikan data perbandingan (sebelum dan sesudah) secara tepat untuk setiap indikator. Ketiga, ia menggunakan kata "signifikan" yang dapat dibenarkan oleh lonjakan angka yang cukup besar di semua metrik, menunjukkan kemampuan siswa untuk menginterpretasi skala perubahan.

Soal 9
Masih menggunakan tabel data yang sama dari penelitian tentang program "Makan Bergizi Gratis (MBG)", kelompok siswa tersebut diminta untuk tidak hanya mendeskripsikan, tetapi juga menganalisis dan menemukan potensi masalah atau fenomena sosiologis yang lebih dalam dari data tersebut untuk penelitian lanjutan. Dengan menggunakan imajinasi sosiologis untuk menghubungkan berbagai indikator dalam tabel, analisis atau hipotesis lanjutan manakah yang menunjukkan penalaran paling tajam mengenai permasalahan sosial yang mungkin timbul dari program MBG tersebut? A. Program MBG terbukti sangat efektif dan tidak memiliki dampak negatif sama sekali, sehingga penelitian lebih lanjut tidak diperlukan. B. Peningkatan kehadiran siswa kemungkinan hanya disebabkan oleh adanya makanan gratis, bukan karena meningkatnya minat belajar. C. Meskipun data menunjukkan banyak dampak positif, perubahan pola interaksi menjadi "kelompok makan bersama yang lebih cair" bisa menjadi hipotesis awal untuk masalah baru: munculnya eksklusivitas sosial atau bullying terhadap siswa yang tidak cocok dengan menu makanan atau yang memiliki kebiasaan makan berbeda. D. Peningkatan energi siswa mungkin tidak akan bertahan lama dan hanya merupakan efek plasebo dari adanya program baru di sekolah. E. Guru menjadi lebih subjektif dalam menilai tingkat konsentrasi siswa karena mereka mengetahui adanya program MBG, sehingga data tersebut tidak bisa dipercaya. Jawaban Soal 9: Jawaban yang Benar: C. Meskipun data menunjukkan banyak dampak positif, perubahan pola interaksi menjadi "kelompok makan bersama yang lebih cair" bisa menjadi hipotesis awal untuk masalah baru: munculnya eksklusivitas sosial atau bullying terhadap siswa yang tidak cocok dengan menu makanan atau yang memiliki kebiasaan makan berbeda. Analisis Pilihan C: Pilihan ini menunjukkan penalaran sosiologis yang paling tajam. Pertama, ia mengakui temuan positif yang ada, menunjukkan analisis yang seimbang. Kedua, ia fokus pada data kualitatif yang paling ambigu ("kelompok makan bersama yang lebih cair") dan melihatnya tidak hanya sebagai hal positif, tetapi juga sebagai potensi sumber masalah baru. Ketiga, ia secara spesifik merumuskan hipotesis baru yang sangat sosiologis: pembentukan kelompok sosial baru (kelompok makan) dapat menciptakan batas-batas sosial (social boundaries), eksklusivitas, dan bahkan bentuk bullying baru yang berbasis pada preferensi makanan atau kebiasaan. Ini adalah contoh sempurna dari imajinasi sosiologis, yaitu kemampuan untuk melihat "masalah pribadi" (tidak suka makanan) menjadi "isu publik" (struktur sosial baru yang mengucilkan).

Soal 10 Dalam sebuah ajang kompetisi riset sosiologi tingkat nasional, kelompok "Mitra Bencana" berhasil mencapai tahap final. Mereka telah melakukan penelitian mendalam mengenai "Dinamika Sosial dan Resiliensi Komunitas dalam Menghadapi Bencana Banjir di Beberapa Wilayah Sumatra dan Sulawesi Utara." Setelah mengumpulkan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumen, kelompok ini mempersiapkan presentasi poster yang komprehensif. Pada hari presentasi, ketua kelompok, Siti, dengan percaya diri menjelaskan temuan utama riset mereka. Ia memaparkan bagaimana bencana banjir tidak hanya menyebabkan kerugian material, tetapi juga memicu perubahan signifikan dalam struktur sosial dan interaksi antarwarga. Temuan menunjukkan adanya peningkatan kohesi sosial dan praktik gotong royong di fase darurat, namun juga menyoroti munculnya vulnerabilitas sosial yang berbeda antar kelompok masyarakat, terutama terkait akses terhadap bantuan dan proses rehabilitasi pascabencana. Siti juga mengaitkan temuan ini dengan konsep-konsep sosiologi seperti kapital sosial (Putnam), teori fungsionalisme struktural (Durkheim/Parsons) dalam konteks upaya pemulihan keseimbangan sosial, serta teori konflik (Marx/Dahrendorf) untuk menganalisis potensi ketidakadilan dalam distribusi sumber daya pascabencana. Para juri memberikan apresiasi atas kedalaman analisis dan kemampuan kelompok dalam mengintegrasikan teori sosiologi dengan data empiris dari lapangan.
Berdasarkan narasi di atas, manakah pernyataan yang paling tepat menggambarkan esensi dan tujuan utama dari presentasi hasil riset kelompok "Mitra Bencana" dalam konteks sosiologi?

A. Menampilkan data statistik terbaru mengenai jumlah korban dan kerugian finansial akibat bencana banjir di kedua wilayah.
B. Mengadvokasi kebijakan pemerintah yang lebih ketat dalam penanggulangan bencana dan relokasi warga terdampak.
C. Menguraikan secara rinci kronologi kejadian banjir serta upaya mitigasi teknis yang telah dilakukan oleh pihak berwenang.
D. Menghubungkan temuan empiris tentang dampak sosial bencana dengan kerangka teori sosiologi untuk menjelaskan kompleksitas fenomena tersebut.
E. Membandingkan tingkat resiliensi komunitas di Sumatra dan Sulawesi Utara berdasarkan indeks pembangunan manusia (IPM) masing-masing daerah.
Jawaban: D
Pembahasan:
Indikator soal secara jelas menyebutkan bahwa presentasi hasil riset harus "menjelaskan gejala sosial yang diteliti, temuan, dan kaitannya dengan konsep sosiologi." Narasi soal juga menguatkan hal ini dengan menyebutkan Siti "mengaitkan temuan ini dengan konsep-konsep sosiologi seperti kapital sosial (Putnam), teori fungsionalisme struktural (Durkheim/Parsons), serta teori konflik (Marx/Dahrendorf)." Dalam rangka persiapan riset sosiologi mengenai respons masyarakat terhadap bencana, kelompok siswa "Penjelajah Digital" memutuskan untuk melakukan observasi awal. Mereka memilih platform Twitter/X dan fokus pada tagar populer yang berkaitan dengan bencana banjir di Sumatra dan Sulawesi Utara selama lima hari. Selama periode observasi, mereka mencatat berbagai jenis interaksi: mulai dari penyebaran informasi dan permintaan bantuan, ekspresi simpati dan solidaritas, hingga munculnya hoaks dan ujaran kebencian terhadap pihak-pihak tertentu. Mereka juga mengamati bagaimana narasi publik terbentuk, siapa saja aktor yang paling aktif (misalnya, akun pribadi, lembaga swadaya masyarakat, atau akun resmi pemerintah), serta bagaimana sentimen kolektif bergeser seiring perkembangan situasi bencana. Observasi ini bertujuan untuk memahami pola komunikasi dan pembentukan opini publik dalam krisis, serta mengidentifikasi potensi kapital sosial digital yang muncul atau justru fragmentasi sosial yang terjadi di ruang siber. Narasi Soal:Selamat membaca!!!

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)