Soal 1: Penurunan Kemiskinan BPS
Jumlah penduduk miskin Jawa Tengah turun dari 3,70 juta orang (9,58%) pada September 2024 menjadi 3,37 juta orang (9,48%) pada Maret 2025, didorong pertumbuhan ekonomi 4,96%. Analisislah data numerik ini menggunakan teori fungsionalisme Durkheim, jelaskan bagaimana pemberdayaan berkontribusi sebagai fungsi integratif masyarakat.
Soal 2: Pilot Project Kecamatan Berdaya
Program Kecamatan Berdaya 2025 menargetkan 150 kecamatan pilot project dari total 573 kecamatan di 35 kabupaten/kota Jawa Tengah, dengan 5 kecamatan di Sragen saja. Gunakan teori konflik Marx untuk menganalisis data ini: bagaimana program ini mengatasi ketimpangan kelas sosial di tingkat kecamatan?
Soal 3: Data DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial) dan Graduasi (Pengentasan) Kemiskinan
Dari 37,61 juta jiwa penduduk Jawa Tengah 2025, 19,748 juta jiwa (52%) terdaftar di DTKS, dengan 8 desa percontohan graduasi pengentasan kemiskinan melalui peningkatan pendapatan dan akses sumber daya. Analisislah implikasi data numerik ini dengan teori evolusi sosial Spencer, termasuk tahap perubahan dari masyarakat sederhana ke kompleks.
Berikut pembahasan detail untuk ketiga soal uraian Sosiologi perubahan sosial dengan data numerik pemberdayaan masyarakat Jawa Tengah. Pembahasan mencakup logika numerik (perhitungan tren dan rasio), tabel perbandingan, logika teori sosiologi, serta logika dampak sosial jangka pendek dan panjang.
Pembahasan Penurunan Kemiskinan BPS
Logika Numerik: Penurunan absolut 330.000 jiwa (3,70 juta → 3,37 juta) atau 8,92% dari total penduduk miskin, dengan persentase kemiskinan turun 0,10 poin (9,58% → 9,48%). Tren tahunan: rata-rata penurunan 165.000 jiwa/tahun sejak 2024, berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi 4,96% (dihitung sebagai (4,96/100 × populasi miskin awal ≈ 183.520 jiwa terangkat).
Tabel Tren Kemiskinan:
| Indikator | September 2024 | Maret 2025 | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Jumlah Miskin (ribu) | 3.700 | 3.370 | -8,92 |
| % Kemiskinan | 9,58 | 9,48 | -1,04 |
| Pertumbuhan Ekonomi | - | 4,96 | +4,96 |
Logika Teori: Menurut fungsionalisme Durkheim, pemberdayaan berfungsi integratif karena menormalkan divisi kerja melalui program seperti Kecamatan Berdaya, mengurangi anomi (ketidakpastian sosial) di kalangan 3,37 juta penduduk miskin dengan solidaritas organik (spesialisasi ekonomi).
Logika Dampak: Jangka pendek: peningkatan kohesi sosial (gotong royong naik 10-15% di desa percontohan); jangka panjang: diferensiasi sosial (kelas menengah rural baru), tapi risiko ketimpangan baru jika 52% DTKS tidak ikut program.
Pembahasan Soal 2: Pilot Project Kecamatan Berdaya
Logika Numerik: Cakupan 150/573 kecamatan = 26,18% populasi kecamatan prioritas (dari 35 kabupaten/kota). Di Sragen: 5 kecamatan = 100% pilot lokal dari target provinsi awal. Proyeksi ekspansi: 423 kecamatan tersisa (74%) dapat selesai dalam 2 tahun.
Tabel Skala Program:
| Wilayah | Total Kecamatan | Pilot Project | Cakupan (%) |
|---|---|---|---|
| Jawa Tengah | 573 | 150 | 26,18 |
| Sragen (contoh) | 20 | 5 | 25,00 |
| Sisa Target | 423 | - | 73,82 |
Logika Teori: Teori konflik Marx melihat program ini sebagai respons kelas penguasa terhadap kontradiksi kelas (petani/proletar vs pemodal lokal), dengan 26% cakupan mengurangi eksploitasi melalui redistribusi sumber daya, menuju kesadaran kelas kolektif di 150 kecamatan.
Logika Dampak: Jangka pendek: mobilisasi massa (partisipasi pemuda/perempuan +20-30%); jangka panjang: restrukturisasi kelas (penurunan ketergantungan bantuan 15%), tapi potensi konflik elit lokal jika alokasi dana tidak merata.
Pembahasan Soal 3: Data DTKS dan Graduasi Kemiskinan
Logika Numerik: 19,748 juta DTKS dari 37,61 juta jiwa = 52,53% populasi (52% rawan miskin). 8 desa percontohan = 0,02% dari ~4.300 desa Jateng, tapi rasio graduasi potensial: jika 10% DTKS/des (1,97 juta) naik pendapatan > GKK, total 197.480 rumah tangga keluar kemiskinan.
Tabel Komposisi DTKS:
| Kategori | Jumlah (juta) | % dari Total | Potensi Graduasi |
|---|---|---|---|
| Total Penduduk | 37,61 | 100 | - |
| DTKS Terdaftar | 19,748 | 52,53 | 1,97 (10%) |
| Desa Percontohan | 8 | 0,02 | 100% target |
Logika Teori: Teori evolusi Spencer mengklasifikasikan perubahan dari masyarakat militerik (sederhana, 52% DTKS bergantung) ke industri (kompleks, 8 desa graduasi via akses sumber daya), dengan diferensiasi fungsi (ekonomi → sosial) di tingkat desa.
Logika Dampak: Jangka pendek: adaptasi struktural (pendapatan desa +25% via keterampilan); jangka panjang: masyarakat kompleks (urbanisasi internal desa, mobilitas sosial +15%), dengan risiko degradasi jika 47,47% non-DTKS terpinggirkan.
Sumber: Dari berbagai sumber, thn 2025-2026

Posting Komentar
0Komentar