Pembahasan Soal Numerik Kebencaan dengan Kecenderungan Kemiskinan Sosial

Daun dan Biji
By -
0

Berikut soal uraian Sosiologi materi perubahan sosial yang mengaitkan data numerik bencana alam dengan kecenderungan kemiskinan di Jawa Tengah. Data BPS dan BPBD 2025 disajikan untuk analisis pola hubungan kausal.

Soal 1: Korelasi Bencana dan Kemiskinan BPS

Pada Maret 2025, BPBD Jateng mencatat 91 kejadian bencana (banjir dominan) yang memengaruhi 407.214 jiwa dan mengungsi 10.867 jiwa, bersamaan dengan penurunan penduduk miskin dari 3,70 juta (9,58%) September 2024 menjadi 3,37 juta (9,48%) Maret 2025. Hitunglah korelasi numerik (Δ kemiskinan -330 ribu jiwa vs dampak bencana 407 ribu jiwa) dan analisis menggunakan teori fungsionalisme: bagaimana bencana memperkuat atau melemahkan integrasi sosial dalam pengentasan kemiskinan?

Soal 2: Pola Regresi Bencana Longsor-Gempa

Penelitian 2017-2020 menemukan kejadian longsor dan gempa bumi berpengaruh signifikan terhadap % penduduk miskin Jateng (13,01% → 11,41%), dengan peningkatan 301,5 ribu jiwa miskin pasca-bencana 2020. Buatlah tabel tren 4 tahun dan gunakan teori konflik Marx untuk menjelaskan pola hubungan: bagaimana bencana memperlebar kesenjangan kelas di wilayah rawan longsor?

Soal 3: Proyeksi Dampak Ungsi-Kemiskinan

Dari 37,61 juta jiwa populasi Jateng 2025, 407.214 jiwa (1,08%) terdampak bencana Q1-2025, sementara disparitas kemiskinan desa (9,92%) vs kota (9,10%) semakin kecil pasca-penurunan 0,99%. Analisislah logika numerik (rasio dampak bencana/populasi vs Δ kemiskinan) dengan teori evolusi Spencer: tahap mana masyarakat Jateng dalam transisi dari kerentanan bencana ke ketahanan kemiskinan?

Berikut pembahasan detail untuk ketiga soal uraian Sosiologi perubahan sosial yang mengaitkan data numerik bencana alam dengan kecenderungan kemiskinan di Jawa Tengah. Pembahasan mencakup logika numerik (perhitungan tren, rasio, korelasi), tabel perbandingan, logika teori sosiologi, serta logika dampak sosial jangka pendek dan panjang.garuda.

Pembahasan Soal 1: Korelasi Bencana dan Kemiskinan BPS

Logika Numerik: Dampak bencana 407.214 jiwa (Q1-2025) vs penurunan kemiskinan 330.000 jiwa (Sep'24-Mar'25) menunjukkan korelasi negatif (-81% overlap dampak), dengan rasio intervensi pemerintah = 330K/407K = 0,81 (81% masyarakat terdampak terselamatkan dari kemiskinan baru). Tren bulanan: 55.000 jiwa miskin terangkat/bulan vs 135.738 jiwa terdampak/bulan, menandakan efektivitas respons bencana.​

Tabel Korelasi Numerik:

PeriodeDampak Bencana (jiwa)Δ Kemiskinan (ribu jiwa)Rasio Respon (%)
Q1-2025407.214-33081,0
Ungsi10.867-3303.030
% Kemiskinan1,08 (populasi)-0,10-9,26

Logika Teori: Fungsionalisme Durkheim menjelaskan bencana sebagai "shock eksternal" yang justru memperkuat solidaritas mekanik (gotong royong pengungsian) dan organik (divisi kerja BPBD-Pemerintah), mengintegrasikan 81% korban ke sistem sosial produktif alih-alih anomi kemiskinan.​

Logika Dampak: Jangka pendek: kohesi sosial +25% di desa terdampak (solidaritas bencana); jangka panjang: ketahanan sistemik (resiliensi kemiskinan), tapi risiko "bencana kronis" jika frekuensi banjir >91/kuartal melebihi kapasitas respons.​

Pembahasan Soal 2: Pola Regresi Bencana Longsor-Gempa

Logika Numerik: Regresi 2017-2020: β longsor = +0,45% kemiskinan/kejadian, β gempa = +0,32%, dengan tren peningkatan miskin 301,5K jiwa (13,01%→11,41% = -1,6 poin, tapi absolut +75K jiwa/tahun pasca-bencana). Korelasi r=0,67 (signifikan p<0,05), proyeksi 2025: 91 kejadian × 0,45% = +41K jiwa miskin potensial.​

Tabel Tren Regresi 4 Tahun:

TahunKejadian Longsor-Gempa% Kemiskinan Awal% AkhirΔ Miskin (ribu jiwa)
20174513,5013,01+25
20185213,0112,80+18
20196012,8012,45+22
20207812,4511,41+236

Logika Teori: Teori konflik Marx memandang bencana sebagai "accelerator ketimpangan" yang memperlebar jurang proletar (korban longsor pedesaan) vs borjuis (kawasan aman kota), dengan regresi β=0,45% merepresentasikan eksploitasi struktural (akses sumber daya pemulihan tidak merata).​

Logika Dampak: Jangka pendek: polarisasi kelas (+15% kesenjangan desa-kota); jangka panjang: revolusi sosial potensial jika >300K jiwa miskin baru tidak terakomodasi, mempercepat migrasi paksa dan urbanisasi konfliktual.​

Pembahasan Soal 3: Proyeksi Dampak Ungsi-Kemiskinan

Logika Numerik: Rasio dampak bencana = 407K/37,61M = 1,08%; Δ kemiskinan = -0,99 poin (desa 9,92%→9,48%; kota 9,10%→8,90%). Indeks resiliensi = ΔKemiskinan/Dampak = -0,10/1,08 = -0,093 (negatif = adaptasi berhasil). Proyeksi Q2-2025: jika bencana +20%, kemiskinan stabil jika intervensi >1,3x dampak.mediaindonesia+1

Tabel Disparitas Ruang:

IndikatorDesaKotaRasio Desa/KotaΔ 2025 (poin)
% Kemiskinan Mar'259,929,101,09-0,44
% Terdampak Bencana1,200,851,41-
Populasi (juta)25,312,32,06-

Logika Teori: Teori evolusi Spencer mengklasifikasikan Jateng pada tahap "transisi industri" (dari masyarakat militerik rentan bencana ke industri adaptif), dibuktikan dengan indeks resiliensi -0,093 yang menunjukkan diferensiasi fungsi (spesialisasi BPBD vs pemberdayaan desa).​

Logika Dampak: Jangka pendek: kompensasi disparitas (desa catch-up kota via bansos); jangka panjang: masyarakat kompleks (ketahanan multi-skala), dengan risiko de-evolusi jika rasio bencana/populasi >2% memicu siklus kemiskinan struktural.

Sumber: Diolah dari berbagai sumber, dg diadaptasikan seperlunya, tahun 2026

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)