Postingan

Tenun Ikat Dewi Shinta Troso: Laboratorium Sosial MGMP Sosiologi Pati

Kunjungan Lapangan

JEPARA – Sejumlah empat puluh guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi SMA se-Kabupaten Pati baru-baru ini melakukan kunjungan edukatif ke sentra Tenun Ikat Dewi Shinta di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Jepara. Kunjungan ini bukan sekadar studi banding biasa, melainkan upaya mendalam untuk mengkaji tenun ikat sebagai identitas sosial dan sumber belajar berkelanjutan di era globalisasi.

Ketua MGMP Sosiologi Kabupaten Pati, Suhadi, menegaskan pentingnya pelestarian tenun sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas sosial. "Tenun adalah identitas sosial kita yang perlu kita jaga eksistensinya dalam era global," ujar Suhadi. Menurutnya, salah satu langkah konkret adalah dengan mempelajari secara langsung apa yang terkandung dalam tenun ikat, seperti yang ada di Desa Troso.

Suhadi menyoroti potensi tenun sebagai media pembelajaran interdisipliner. "Misal belajar tentang etnomatematika pada bidang geometrik, simbol geometrik, hingga relasi terhadap pasar," jelasnya, menunjukkan bagaimana tenun dapat menjadi jembatan antara kearifan lokal dan konsep-konsep sosiologis, ekonomi, bahkan matematika.

Antusiasme serupa juga diungkapkan oleh Nurul Fikroyah, peserta MGMP dari SMA N 1 Jakenan. Baginya, kunjungan ke Dewi Shinta adalah pengalaman yang sangat berharga. "Ini tempat yang penting kita kunjungi. Kita kerap membahas batik, *fashion*, dan lain-lain, tapi kita tidak pernah bahas proses membuat kain morinya. Nah, inilah di sini kita lihat langsung," kata Nurul. Ia menekankan bahwa melihat langsung proses produksi tenun memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dibandingkan hanya teori di kelas.



Sementara itu, Pak Ariyanto dari SMA BOPKRI Margorejo Dukuh Seti Pati, sebuah badan usaha pendidikan Kristen, melihat Tenun Ikat Dewi Shinta sebagai kajian kearifan lokal yang relevan dengan perubahan teknologi. "Tempat ini dapat masuk kajian kearifan lokal dan perubahan teknologi tenun, dari tradisional ke mesin," ungkap Ariyanto. Ia, yang mengajar di wilayah paling utara Pati dan bertetangga dengan penyanyi Soimah saat kecil, menambahkan bahwa transformasi teknologi dalam industri tenun dapat menjadi studi kasus menarik bagi siswa sosiologi untuk memahami dinamika masyarakat dan adaptasi budaya.

Kunjungan ini diharapkan dapat memperkaya materi ajar sosiologi, memberikan perspektif baru bagi para guru, dan menginspirasi siswa untuk lebih menghargai serta melestarikan warisan budaya bangsa. Tenun Ikat Dewi Shinta, dengan segala kompleksitas proses dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, terbukti menjadi laboratorium sosial yang hidup bagi para pendidik dan generasi mendatang. Keterlibatan langsung dalam memahami proses tenun diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga identitas lokal di tengah arus globalisasi yang tak terhindarkan.(shd,26)

Posting Komentar