Polarisasi Digital dan Tantangan Ruang Publik di Indonesia

Artikel ini membedah cara kerja algoritma, peran aktor politik, dan infrastruktur digital dalam membentuk ruang gema (echo chamber)
Kunjungan Lapangan
Polarisasi Digital dan Tantangan Ruang Publik di Indonesia
Pendahuluan Indonesia menghadapi tantangan sosiologis berupa polarisasi digital yang semakin menguat, terutama pasca-Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Era demokrasi digital telah menjadikan media sosial sebagai alat utama dalam membentuk opini publik dan meningkatkan partisipasi politik [1]. Namun, kondisi ini juga ditandai dengan menguatnya fenomena post-truth dan merebaknya disinformasi, yang turut membentuk persepsi publik terhadap demokrasi [1]. Mengkaji polarisasi digital menjadi krusial karena dampaknya yang multidimensional. Bagi masyarakat, polarisasi dapat merusak kohesi sosial, memicu konflik, dan menghambat dialog konstruktif. Lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam membekali generasi muda dengan literasi digital dan kritis agar tidak mudah terjerumus dalam arus disinformasi. Komunitas, sebagai garda terdepan interaksi sosial, berpotensi terpecah belah jika tidak mampu mengelola perbedaan pandangan yang diperparah oleh polarisasi. Pada skala bangsa, polarisasi digital men…