Dalam diskursus sosiologi ekonomi, kelas menengah sering kali dipandang sebagai "penjaga gerbang" stabilitas sebuah negara. Namun, di Indonesia saat ini, narasi mengenai kelas menengah mulai bergeser dari simbol kemakmuran menjadi simbol kecemasan. Mengapa membahas penyusutan kelas menengah menjadi sangat mendesak?
Pertama, secara ekonomi, kelas menengah adalah motor utama konsumsi domestik. Data menunjukkan bahwa kelompok ini menyumbang lebih dari 80% terhadap total konsumsi rumah tangga nasional [1]. Ketika jumlah mereka menyusut, daya beli nasional akan melemah, yang pada gilirannya akan menghambat pertumbuhan ekonomi makro. Kedua, secara sosiologis, kelas menengah berfungsi sebagai penyangga stabilitas demokrasi. Kelompok ini cenderung memiliki literasi politik yang lebih baik dan menjadi penggerak opini publik yang kritis. Melemahnya kelas menengah dapat memicu frustrasi kolektif dan instabilitas sosial karena hilangnya harapan akan mobilitas vertikal [1].
Ketiga, kelas menengah adalah basis pajak dan tabungan. Sebagai pembayar pajak formal yang signifikan, penyusutan jumlah mereka mengancam ruang fiskal negara untuk membiayai pembangunan dan perlindungan sosial bagi kelompok miskin. Oleh karena itu, penyusutan kelas menengah bukan sekadar masalah angka statistik, melainkan ancaman terhadap fondasi kemajuan bangsa menuju visi Indonesia Emas 2045 [3].
1. Konsep dan Batasan Operasional
Untuk memahami cara kerja penyusutannya, kita perlu menetapkan batasan yang digunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Dunia. Kelas menengah didefinisikan sebagai penduduk dengan pengeluaran antara 3,5 hingga 17 kali Garis Kemiskinan (GK).
Tabel. Kelompok ekonomi, baasan pengeluaran, dan karakteristik sosiologis
| Kelompok Ekonomi | Batasan Pengeluaran (kali GK) | Karakteristik Sosiologis |
|---|---|---|
| Kelas Menengah | 3,5 s.d. 17 kali GK | Memiliki tabungan, rencana masa depan, dan rasa aman finansial. |
| Menuju Kelas Menengah (AMC) | 1,5 s.d. 3,5 kali GK | Memiliki pekerjaan tapi tanpa bantalan ekonomi; rentan jatuh miskin. |
| Rentan Miskin | 1 s.d. 1,5 kali GK | Hidup di ambang batas kemiskinan; sangat bergantung pada bantuan. |
Berdasarkan studi dokumen, jumlah kelas menengah Indonesia menurun drastis dari 57,33 juta orang (2019) menjadi 46,7 juta orang (2025) [1] [2].
2. Mekanisme Kerja: Bagaimana Penyusutan Terjadi?
Penyusutan kelas menengah tidak terjadi secara instan, melainkan melalui mekanisme struktural yang sistematis. Berikut adalah "cara kerja" fenomena tersebut berdasarkan analisis dokumen:
A. Fenomena Middle Class Squeeze (Himpitan Kelas Menengah)
Mekanisme utama yang bekerja adalah ketidakseimbangan antara pertumbuhan pendapatan riil dengan kenaikan biaya hidup.
* Stagnasi Upah Riil: Meskipun upah nominal naik, namun daya beli efektif stagnan karena inflasi pada komponen jasa (pendidikan, kesehatan, dan perumahan) sering kali berada di atas inflasi umum [2].
* Tekanan Biaya Hidup: Kenaikan harga pangan, BBM, dan biaya pendidikan tinggi memaksa kelas menengah untuk mengalihkan dana yang seharusnya untuk tabungan atau investasi ke konsumsi dasar.
B. Prekariasasi Lapangan Kerja
Cara kerja kedua berkaitan dengan pergeseran struktur pasar tenaga kerja. Sejak tahun 2019, terjadi tren di mana lapangan kerja formal berkualitas semakin terbatas, sementara sektor informal dan ekonomi gig tumbuh pesat.
* Pekerjaan Berbasis Survival: Banyak kelas menengah yang kehilangan pekerjaan formal beralih ke pekerjaan informal yang tidak memiliki jaminan sosial maupun kepastian pendapatan jangka panjang [1].
C. Jebakan Utang Konsumtif
Untuk mempertahankan status sosial dan gaya hidup di tengah tekanan ekonomi, banyak individu kelas menengah terjebak dalam mekanisme utang.
* Ketergantungan pada Kredit: Penggunaan paylater dan pinjaman online untuk kebutuhan harian menjadi cara bertahan hidup yang semu, yang justru mempercepat proses kejatuhan ekonomi rumah tangga [2].
3. Implementasi dalam Pembelajaran Sosiologi SMA
Materi mengenai penyusutan kelas menengah sangat relevan untuk diajarkan pada siswa SMA, khususnya pada mata pelajaran Sosiologi Kelas XI. Berikut adalah panduan penggunaannya:
A. Relevansi dengan Kurikulum (KD/Capaian Pembelajaran)
Isu ini dapat diintegrasikan ke dalam beberapa topik utama:
1. Struktur Sosial (Stratifikasi): Siswa dapat mempelajari kriteria dasar pembentukan pelapisan sosial di Indonesia (ekonomi/pengeluaran) dan bagaimana batas-batas kelas tersebut bersifat dinamis.
2. Mobilitas Sosial: Fenomena penyusutan kelas menengah adalah contoh nyata dari Mobilitas Vertikal Turun (_Social Sinking_). Siswa diajak menganalisis faktor penghambat mobilitas (ekonomi dan struktural).
3. Permasalahan Sosial: Isu ini dikaji sebagai masalah sosial yang muncul akibat perubahan struktur ekonomi dan kebijakan publik.
B. Strategi Pembelajaran: *Case-Based Learning* (CBL)
Guru dapat menggunakan artikel ini sebagai bahan diskusi kasus.
Langkah 1 (Orientasi): Guru menyajikan data penurunan jumlah kelas menengah dari BPS (2019-2025).
Langkah 2 (Analisis): Siswa dibagi menjadi kelompok untuk mendiskusikan "Cara Kerja Penyusutan" (misal: satu kelompok membahas inflasi pendidikan, kelompok lain membahas ekonomi gig).
Langkah 3 (Koneksi Kontekstual): Siswa diminta melakukan pengamatan sederhana atau wawancara di lingkungan sekitar mengenai perubahan pola konsumsi (misal: beralih ke barang yang lebih murah).
C. Aktivitas Proyek Siswa
Siswa dapat membuat infografis atau esai pendek dengan tema: "Masa Depanku dan Tantangan Mobilitas Sosial di Indonesia". Proyek ini bertujuan agar siswa memahami bahwa status sosial bukan sesuatu yang statis dan dipengaruhi oleh kondisi struktural negara.
Kesimpulan
Penyusutan kelas menengah di Indonesia adalah fenomena nyata yang didukung oleh data dokumenter. Mekanisme kerjanya yang kompleks—mulai dari stagnasi upah hingga prekariasasi kerja—menciptakan tantangan mobilitas sosial yang besar. Dengan membawa isu ini ke ruang kelas, siswa SMA diharapkan memiliki kesadaran kritis tentang struktur masyarakatnya dan mampu mempersiapkan diri menghadapi tantangan mobilitas sosial di masa depan.
Referensi
[1] Al Arif, M. N. R. (2026, Mei 29). *Mode Bertahan Kelas Menengah Indonesia*. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Diakses dari [https://uinjkt.ac.id/id/mode-bertahan-kelas-menengah-indonesia-](https://uinjkt.ac.id/id/mode-bertahan-kelas-menengah-indonesia-)
[2] Sasmita, R. (2026, Mei 28). *Middle Class Squeeze Ancam Kelas Menengah Turun Status pada 2026, Apa Itu?*. Kontan. Diakses dari [https://aktual.kontan.co.id/news/middle-class-squeeze-ancam-kelas-menengah-turun-status-pada-2026-apa-itu](https://aktual.kontan.co.id/news/middle-class-squeeze-ancam-kelas-menengah-turun-status-pada-2026-apa-itu)
[3] Taufikurahman, M. R. (2026, Februari 10). *Penyusutan Jumlah Kelas Menengah Jadi Sinyal Tekanan Struktural Ekonomi*. Kabar Bisnis. Diakses dari [https://www.kabarbisnis.com/read/28133977/penyusutan-jumlah-kelas-menengah-jadi-sinyal-tekanan-struktural-ekonomi](https://www.kabarbisnis.com/read/28133977/penyusutan-jumlah-kelas-menengah-jadi-sinyal-tekanan-struktural-ekonomi)
