Postingan

Konflik Sosial dan Integrasi: Jarak dengan Khasanah Bangsa Indonesia

Daun dan Biji
Definisi tentang konflik sosial dan integrasi masih berjarak. Alam pengetahuan siswa lebih banyak dipasok oleh kulakan pengetahuan guru saat di bangku kuliah. Dan naifnya, konsep dasar konflik sosial dan integrasi hasil dari catatan kuliah Soerjono Soekanto dkk dieranya. Alhasil, alam raya tentang konsep konflik sosial dan integrasi jauh api dari panggang. 

Susah dan langka kita melihat catatan di buku siswa tentang pemikiran bung Hatta, Bung Karno, Gus Dur, hingga Cak Nur tentang apa bagaimana merawat bangsa indonesia dari dinamika konflik sosial sesuai khasanah sosial budaya. 

Diawal kemerdekaan Bung Hatta telah mewanti-wanti bahwa bangsa ini tidak cukup hanya dirawat dengan demokrasi politik. Apa yang dipesan Bung Hatta kemudian ditajamkan Gus Dur tentang nilai kemanusiaan diatas politik. Dan pasa saat ini tampak jelas. Memang konfigurasi demokrasi politik tampak lebih tenang dan dinamis. Tetapi pawai kuasa demokrasi politik kita saat ini sedang mengirim sinyal tidak baik-baik saja. Tidak lain dan tidak bukan, karena instrumen kemanusiaan dan pemerataan ekonomi masih berjarak dan njomplang. 

Persatuan bangsa indonesia yang dimungkinkan lebih kearah paksa ini, jelas menjauhkan kita tentang pesan bung Karno. Apa itu? Adalah gotong royong. Korupsi adalah wujud dan rupa nyata bahwa bangsa ini sedang menjaukan diri dari gotong royong. Jikapun ada persatuan, itu adalah sebatas panggung struktural belaka. 

Bahkan ihktiar untuk mencari titik temu dalam merawat bangsa ini, terlihat sebatas mencari titik temu kepentingan dan kelanggengan kepentingan kelompok dan golongan saja. 

Dari tanda nyata di atas, bukankah kita secara tidak sadar telqh menyiapkan generasi muda kita menjauhi apa yang menjadi mimpi besar dan cita cita bangsa indonesia?

Posting Komentar