Inovasi Siswa SMANJA: Olah Limbah Jadi Media Tanam "Arang Sekam Plus" di Rumah Kompos

Kunjungan Lapangan

PROGRAM UNGGULAN SMANJA – Kelompok Inovasi dan Riset SMA Negeri J (SMANJA) kembali menorehkan karya kreatif dalam bidang lingkungan. Kali ini, mereka berhasil mengembangkan media tanam inovatif yang diberi nama "Arang Sekam Plus". 

Kegiatan produksi ini dipusatkan di Rumah Kompos SMANJA, di mana para siswa belajar mengolah bahan-bahan organik menjadi media tanam berkualitas tinggi yang siap mendukung kemandirian pangan dan penghijauan sekolah.

Kepala SMA N 1 Jakenan, Rumaji, S.Pd., M.Si., menyampaikan bahwa inovasi ini merupakan bagian dari program unggulan sekolah dalam mengembangkan potensi siswa di bidang riset dan lingkungan. "Kami berkomitmen untuk terus mendorong siswa agar tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian dan keterampilan praktis yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan," ujar Bapak Rumaji.

Menggabungkan Bahan Organik Berkualitas

Berbeda dengan media tanam biasa, Arang Sekam Plus buatan siswa SMANJA ini menggunakan campuran bahan yang kaya nutrisi. Penggunaan arang sekam sebagai bahan utama dikombinasikan dengan dolomit, kohe kambing, hingga unsur alami seperti akar dan daun bambu.

"Kami ingin menciptakan media tanam yang tidak hanya gembur, tetapi juga kaya akan mikroorganisme baik dari alam," ujar salah satu anggota tim riset saat ditemui di Rumah Kompos.

 Siswa SMANJA sedang bahu-membahu mencampur bahan utama arang sekam dan dolomit hingga rata menggunakan pacul di atas alas tikar.

Langkah Pembuatan yang Presisi

Proses pembuatan media tanam ini dilakukan dengan ketelitian tinggi untuk memastikan hasil yang homogen dan kaya nutrisi. Berikut adalah alat, bahan, dan langkah-langkah yang dilakukan oleh tim Inovasi dan Riset SMANJA:

Alat yang Diperlukan

*   Pacul untuk mengaduk
*   Alas tikar/lantai sebagai wadah pencampuran
*   Spray untuk menyiram cairan organik
*   Drum komposting untuk proses fermentasi

Bahan-bahan:

*   Arang sekam (4 sak/10kg)
*   Dolomit (50kg)
*   Kohe kambing (1 ember/10kg)
*   Akar bambu (1 ember/1kg)
*   Daun bambu (1 ember/1kg)
*   Pupuk Organik Cair (POC) sebanyak 16 liter

![Siswa memasukkan bahan organik tambahan](https://files.manuscdn.com/user_upload_by_module/session_file/310419663026716908/ENzbILPJKhGduJIp.jpeg)
*Caption: Ketelitian siswa saat memasukkan campuran kohe kambing, akar bambu, dan daun bambu ke dalam adonan media tanam.*

**Tahapan Produksi:**
  1. Persiapan: Gelar alas tikar atau pastikan lantai dalam keadaan bersih.
  2. Pencampuran Awal: Tuangkan arang sekam dan dolomit, lalu aduk hingga benar-benar rata.
  3. Penambahan Nutrisi: Masukkan kohe kambing, akar bambu, dan daun bambu ke dalam campuran, kemudian aduk kembali hingga homogen.
  4. Aktivasi Organik Semprotkan Pupuk Organik Cair (POC) menggunakan spray sembari terus diaduk. Proses ini diulangi sebanyak 3 hingga 5 kali adukan untuk memastikan cairan meresap sempurna.
  5. Fermentasi: Masukkan seluruh campuran ke dalam drum komposting dan tutup rapat (anaerob).
  6. Pemanenan: Setelah didiamkan selama 19 hari, kompos akan berubah menjadi remah. Pada tahap ini, media tanam "Arang Sekam Plus" siap dibongkar dan dikemas.

Mendukung Sekolah Adiwiyata

Inovasi ini diharapkan tidak hanya menjadi proyek riset semata, tetapi juga menjadi solusi nyata bagi kebutuhan media tanam di lingkungan sekolah maupun masyarakat sekitar. Dengan memanfaatkan limbah seperti arang sekam dan daun bambu, SMANJA terus memperkuat posisinya sebagai sekolah yang peduli pada keberlanjutan lingkungan.

Waka Kesiswaan, Hanik Rosyidah, S.Sos., menambahkan bahwa program ini sejalan dengan upaya sekolah dalam menumbuhkan kemandirian pangan di kalangan siswa. "Melalui kegiatan seperti ini, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung bagaimana mengelola sumber daya alam di sekitar mereka untuk menciptakan ketahanan pangan," jelas Ibu Hanik.


"Hasil akhir yang remah menunjukkan kualitas kompos yang baik dan siap digunakan untuk berbagai jenis tanaman," pungkas tim riset.

Liputan ini disusun untuk menginspirasi seluruh warga sekolah agar terus berinovasi melalui hal-hal sederhana namun berdampak besar bagi bumi. (Joyo Supriyono/Admin SMANJA)

Posting Komentar