RISET SMANJA — Upaya memperkuat budaya riset di SMA Negeri 1 Jakenan, Kabupaten Pati, terus bergerak ke arah yang semakin aplikatif. Salah satu yang kini menonjol ialah riset pertanian yang digagas tim siswa Flora Puria melalui proposal penelitian berjudul Inovasi Pesnab-Hormon Plus: Sinergi Pestisida Nabati dan Zat Pengatur Tumbuh Berbasis Fase Fisiologis untuk Peningkatan Produktivitas dan Ketahanan Tanaman Padi Inpari 32.
Riset tersebut berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Pati sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Tengah. Dalam proposal itu dijelaskan bahwa petani padi masih menghadapi ancaman Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), khususnya penyakit blas, yang dapat menurunkan hasil panen secara signifikan. Di sisi lain, penggunaan pestisida kimia secara berlebihan juga memunculkan persoalan baru berupa resistensi hama, pencemaran lingkungan, dan residu bahan kimia pada hasil pangan.
Kepala SMA N 1 Jakenan Rumaji, M.Si menempatkan penguatan riset pelajar sebagai bagian dari ikhtiar sekolah membangun pendidikan yang relevan dengan kebutuhan lingkungan sekitar. Dalam konteks itu, riset siswa tidak hanya dipandang sebagai ajang kompetisi ilmiah, tetapi juga sebagai wujud kontribusi sekolah terhadap persoalan nyata di sektor pertanian dan lingkungan.
Arah tersebut sejalan dengan posisi SMAN 1 Jakenan yang berada di kawasan agraris, sehingga tema ketahanan pangan, budidaya ramah lingkungan, dan inovasi pertanian menjadi ruang belajar yang sangat kontekstual bagi siswa. Proposal Tim Flora Puria menunjukkan bagaimana persoalan lokal dapat diterjemahkan menjadi gagasan penelitian yang terstruktur, mulai dari perumusan masalah, hipotesis, rancangan perlakuan, hingga metode analisis data.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Hanik, S.Si, selaku Ketua Program Pemajuan Riset Sekolah, menjadi figur yang menguatkan arah pembinaan riset di lingkungan sekolah. Melalui peran itu, pengembangan riset siswa diarahkan agar tidak berhenti pada aspek teoritis, melainkan mampu melahirkan inovasi yang memiliki nilai guna, terutama pada sektor-sektor yang dekat dengan kehidupan masyarakat sekitar.
Dalam proposal penelitian, Tim Flora Puria menawarkan formulasi Pesnab-Hormon Plus, yakni sinergi antara pestisida nabati dan zat pengatur tumbuh yang diaplikasikan secara presisi sesuai fase fisiologis tanaman padi. Formulasi ini dirancang untuk bekerja pada fase vegetatif hingga generatif, dengan target meningkatkan pertumbuhan tanaman, menekan keparahan penyakit blas, dan pada akhirnya mendongkrak hasil panen padi varietas Inpari 32.
Secara ilmiah, gagasan itu dibangun dari telaah sejumlah riset sebelumnya. Proposal menyebutkan bahwa ekstrak daun mimba efektif untuk membantu pengendalian hama, sementara kombinasi ekstrak daun sirih dan lengkuas berpotensi menekan penyakit blas. Pada saat yang sama, zat pengatur tumbuh seperti auksin, giberelin, dan sitokinin diketahui berperan penting dalam mendukung pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman padi. Kebaruan riset ini terletak pada upaya menyatukan dua pendekatan tersebut dalam satu formulasi terpadu yang jadwal aplikasinya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman pada hari setelah tanam.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Mashuri, M.Si melihat penguatan riset semacam itu sejalan dengan kebutuhan pembelajaran yang kontekstual. Pengembangan riset pertanian dan lingkungan, dalam kerangka kurikulum sekolah, menjadi medium agar siswa tidak hanya menguasai konsep, tetapi juga mampu menyusun solusi berbasis data, eksperimen, dan kebutuhan riil masyarakat.
Proposal itu merancang penelitian lapangan selama sekitar lima bulan, mulai April hingga Agustus 2026, di lahan sawah seluas satu hektar di Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan lima perlakuan, termasuk kontrol, aplikasi pestisida nabati, aplikasi hormon, formulasi lengkap Pesnab-Hormon Plus, dan kontrol positif berupa fungisida sintetik
. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah isi, tingkat keparahan penyakit, hingga bobot gabah kering panen.
Jika berhasil, penelitian ini berpotensi memberi manfaat pada beberapa level sekaligus. Bagi petani, inovasi ini ditawarkan sebagai alternatif teknologi budidaya padi yang lebih ramah lingkungan, efektif, dan terjangkau. Bagi lingkungan, formulasi tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada pestisida sintetik yang selama ini menjadi sumber pencemaran tanah dan air. Sementara bagi dunia pendidikan, riset ini memperlihatkan bahwa siswa sekolah menengah dapat terlibat langsung dalam pengembangan ilmu pengetahuan terapan yang berkaitan dengan pertanian berkelanjutan.
Di tengah tuntutan ketahanan pangan dan pentingnya transisi menuju praktik budidaya yang lebih hijau, gagasan yang dibawa Tim Flora Puria memperlihatkan wajah lain sekolah: bukan hanya tempat belajar teori, melainkan ruang tumbuh bagi penelitian yang berangkat dari persoalan lapangan. Dari SMA N 1 Jakenan, riset pelajar itu bergerak dari ruang akademik menuju harapan yang lebih luas, yakni pertanian yang produktif sekaligus lebih bersahabat dengan lingkungan.
Jurnalis: Lintang Malintang
Fotografer: Bukhori
Penyelaras: Rilo
Fotografer: Bukhori
Penyelaras: Rilo
