Di era digital 2025, Gen Z tak lagi berteriak di jalanan—mereka "mengobar" aksi lewat warna dan hashtag. Karya penelitian "Narasi Mengobar Aksi: Kajian Semiotika Warna dalam #PeringatanDarurat sebagai Hidden Transcript Politik Generasi Z di Ruang Digital" dari Humairoh Alkayla Zahrani (SMAN 1 Glagah, Jawa Timur) sukses raih Medali Perak OPSI 2025 kategori IPS, membuktikan kekuatan visual digital ubah narasi politik.
Merah-Hitam: Senjata Tersembunyi Gen Z
Bayangkan scroll Instagram: postingan #PeringatanDarurat banjiri feed dengan merah menyala (urgensi darurat iklim/politik) dan hitam solid (solidaritas luka kolektif). Menggunakan teori Roland Barthes, Humairoh dekode warna bukan estetika belaka, tapi hidden transcript ala James Scott—resistensi halus Gen Z lawan kekuasaan dominan tanpa picu sensor algoritma TikTok/X.
Contoh decoding:
-
Merah: Darah banjir Jakarta → Amarah tersirat kebijakan reklamasi
-
Hitam: Kegelapan karhutla → Solidaritas "kita sama-sama korban"
-
Hijau pudar: Harapan regenerasi → Ironi "sudah terlambat"
Metode Analisis ala Detektif Digital
Penelitian ini tak main-main: analisis 500+ postingan #PeringatanDarurat (2024-2025) dengan tools scraping, heatmap warna RGB via ImageJ, sentiment caption NVivo, plus wawancara 20 aktivis Gen Z. Temuan? 72% dominasi merah-hitam ciptakan "visual violence" picu FOMO—2,3 juta impressions, 15% lonjakan donasi Kitabisa iklim!Dari Teori ke Aksi Nyata
Karya standout karena interdisipliner: sosiologi digital + komunikasi visual + activism studies. Relevan pasca-Pemilu 2024: Gen Z (40% pemuda Indonesia) pimpin narasi digital, dari #FridaysForFutureID sampai #SaveHalmahera. Juri OPSI nilai tinggi orisinalitas—semiotika warna jarang di riset SMA.

Posting Komentar
0Komentar