Detoksifikasi Lumpur Lapindo Menjadi Pupuk Organomineral Silika Ramah Lingkungan

Daun dan Biji
By -
0


Tim siswa SMAS Islam HASMI dari Provinsi Jawa Barat—Zubair Alkwarismi, Mochamad Abdillah Wasom—meraih Kategori Khusus: Upaya Pemanfaatan Lumpur Lapindo di OPSI 2025 melalui inovasi mengubah limbah bencana menjadi pupuk organomineral berbasis silika (SiO₂) terkombinasi mikroba Pseudomonas sp. dan Trichoderma sp.. Penelitian 4 bulan di laboratorium IPA sekolah membuktikan peningkatan produktivitas bayam dengan daun lebih hijau, tinggi tanaman superior, dan biomassa lebih baik.

Latar Belakang Lumpur Lapindo

Bencana Lumpur Lapindo Sidoarjo sejak 2006 menghasilkan 150.000 m³/hari limbah kaya silika tapi mengandung logam berat, menutupi 7.000 ha lahan produktif. Lumpur ini kaya mineral SiO₂ (60-70%) cocok untuk pupuk penguat jaringan tanaman, tapi memerlukan detoksifikasi untuk aman. Tim HASMI mengambil sampel dari Tanggul Sidoarjo, memproses melalui perendaman HCl, pencucian, pengeringan, dan aktivasi mikroba.

Proses Detoksifikasi dan Formulasi

Metode: Lumpur direndam asam, dikeringkan 105°C, diayak mesh 100, dicampur kompos 3:1, diinkubasi dengan Pseudomonas sp. (fiksasi nitrogen, stabilisasi logam) dan Trichoderma sp. (dekomposisi organik, antagonis patogen). Hasil: pupuk organomineral stabilkan pH tanah 6-7, tingkatkan fotosintesis via silika kuatkan sel tanaman, hemat pupuk kimia 40%. Uji bayam tunjukkan daun +25% luas, bobot basah +35% vs kontrol.

Keunggulan Biologis Mikroba

Pseudomonas sp. chelat logam berat (Pb, As) tingkatkan ketersediaan P/K; Trichoderma sp. hidrolisis lignin tingkatkan mikrobioma tanah. Kombinasi sinergis "hidupkan" tanah terkontaminasi, kontra-degradasi akibat lumpur Lapindo. Ramah lingkungan: non-B3 pasca-detoks, potensi proses 1.000 ton/tahun untuk petani Bogor-Cilacap.

Kontribusi Ekonomi dan Lingkungan

Pupuk ini solusi circular economy: 20 juta m³ lumpur terakumulasi jadi aset agraria Rp500 miliar/tahun. Dukung swasembada pupuk organik 3 juta ton (Kementan 2025), khususnya hortikultura Jabar (bayam, sawi). Prestasi kategori khusus OPSI perkuat SMAS HASMI sebagai pusat riset santri STEM lingkungan.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)