Tema: Melestarikan Tradisi, Berkarya untuk Negeri
Jakenan, 19 Desember 2025 – SMA Negeri 1 Jakenan sukses menyelenggarakan Pekan Budaya Kelas X pada Jumat pagi ini, 19 Desember 2025, pukul 07.00-09.50 WIB di Lapangan Depan Sekolah. Kegiatan ini dipenuhi penampilan seni tradisional dan kreasi siswa kelas X, membawa tema "Melestarikan Tradisi, Berkarya untuk Negeri" untuk memupuk kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya bangsa.
baca juga artikel Pembukaan & Wali Murid
Dibuka secara resmi oleh Kepala Sekolah Bapak Rumaji, S.Pd, M.Si., acara dipandu oleh MC Anjel Marfel dan Ramdhan Marfelino Budianto. Dimulai dengan menyanyikan Indonesia Raya serta Mars Smanja yang dipimpin dirigent Bella, doa oleh Lutfi Faisol Aziz, dan sambutan kepala sekolah, rangkaian acara inti menampilkan kebhinekaan seni dari berbagai kelas XE.
Rangkaian Penampilan Lengkap dengan Narasi
Berikut susunan acara utama beserta narasi mendalam untuk setiap penampilan yang memukau hadirin guru, siswa, dan wali murid:
- Karawitan Nyell (XE-1, Koordinator Khansa)
Karawitan adalah seni musik tradisional Jawa yang dimainkan dengan gamelan. Irama lembut dari saron, kendang, gong, serta instrumen lainnya menciptakan harmoni khas yang menenangkan. Melalui karawitan, kita dapat merasakan keindahan budaya Jawa yang penuh filosofi dan diwariskan turun-temurun.[1]
- Tari Kreasi Dewi Anjani (XE-10, Lexya)
Tari Dewi Anjani menceritakan kisah Dewi Anjani, seorang penguasa Gunung Rinjani dalam mitologi Sasak Lombok. Dewi Anjani adalah penguasa Gunung Rinjani, yang diyakini memiliki kekuatan untuk menyeimbangkan alam.
- Drama Musikal Tari Sedekah Bumi (XE-2, Aufa)
Drama musikal ini menghidupkan ritual Sedekah Bumi, tradisi agraris Jawa untuk mengucap syukur dan memohon keselamatan panen dari alam semesta, menggabungkan tarian, musik, dan cerita rakyat yang sarat makna.
- Tari Andhira (XE-9, Charlos)
Tari Andira berasal dari kisah para pejuang desa yang mempertahankan wilayahnya dari serangan musuh. Gerakannya tegas, cepat, dan penuh semangat, melambangkan langkah para pejuang saat maju ke medan perang.[1]
- Drama Musikal Lutung Kasarung (XE-12, Devi)
Drama musikal ini mengadaptasi cerita rakyat Sunda tentang Lutung Kasarung, seekor lutung ajaib yang menjadi pangeran untuk memenangkan hati putri cantik, menekankan nilai kesetiaan, keberanian, dan transformasi.
- Tari Pesisir Juwana (XE-6, Hengky)
Tari Pesisir Juwana mencerminkan kehidupan masyarakat pesisir Juwana, Pati, dengan gerakan lincah yang menggambarkan aktivitas nelayan, perdagangan, dan harmoni dengan laut, sebagai wujud pelestarian budaya pantai Jawa Tengah.
- Drama Kolosal Roro Jonggrang (XE-4, Riska)
Kisah ini menceritakan bagaimana Bandung Bondowoso jatuh cinta pada Roro Jonggrang, namun sang putri mengajukan syarat mustahil membuat 1.000 candi dalam satu malam, melambangkan kecerdikan perempuan dan kritik terhadap keserakahan.[1]
- Tari Damar Sumunar (XE-7, Hari)
Tari menggambarkan cara gen Z melestarikan dan menyalurkan dunia seni tari dengan berbagai konflik ataupun miskonsepsi dengan simpang siur, tetapi bukan menjadi hambatan baginya untuk terus berusaha dan belajar melestarikan seni tari.
- Drama Musikal Ratu Kidul (XE-3, Theona)
Drama Ratu Kidul menceritakan tentang legenda dan mitos mengenai penguasa spiritual Laut Selatan yang sangat terkenal dalam budaya Jawa dan Sunda, simbol kekuatan mistis, kebijaksanaan, dan hubungan manusia dengan alam gaib.
- Tari Asmara Putri Kirana (XE-8, Ayu)
Tari Asmara Putri Kirana menceritakan kisah cinta tragis antara Putri Kirana dan Maling Anguno, penuh emosi, pengkhianatan, dan pengorbanan yang mengajarkan nilai kesetiaan dalam asmara tradisional.[1]
- Drama Musikal Lembu Suro (XE-5, Wike)
Drama Lembu Suro adalah cerita rakyat yang mengisahkan tentang sebuah perjanjian antara Raja Lembu Suro berkepala sapi dengan Dewi Kilisuci, di mana ia harus membuat dua sumur di atas Gunung Kelud dalam satu malam untuk bisa mempersunting sang dewi.
- Tari Kreasi Prajurit Ksatria (XE-11, Lidya)
Tari Prajurit Ksatria merupakan tarian kreasi yang menggambarkan keberanian, semangat juang, kedisiplinan, dan keteguhan hati seorang prajurit dalam membela tanah air. Setiap gerak dan ekspresinya menampilkan sosok ksatria yang gagah, tegas, serta pantang menyerah, sekaligus menunjukkan hormat kepada pemimpin dan pengabdian pada bangsa.
- Flashmob (Semua peserta, Riska Safira)
Flashmob penutup ini menyatukan semua siswa kelas X dalam tarian massal energik, merangkum semangat kebersamaan, kreativitas, dan pelestarian tradisi untuk negeri.
Penutup pukul 09.45-09.50 WIB oleh MC, dengan peserta diinstruksikan siap sejak 06.50 WIB. Acara ini tak hanya hibur, tapi tanamkan nilai pelestarian budaya melalui kreativitas siswa.
Kepala Sekolah Rumaji menyampaikan, "Pekan Budaya ini wujud komitmen SMA N 1 Jakenan membentuk siswa berbudaya, siap berkarya untuk negeri. Tradisi lestarikan, karya ciptakan demi kemajuan bangsa."
Kontak Media:
Panitia Pekan Budaya SMA N 1 Jakenan
Sumber: Pangkal Data Humas SMANJA

Posting Komentar
0Komentar