Kelompok Tani Wangan Bolek di Desa Pekalongan, Winong, Pati, mengembangkan demplot padi Inpari 32 seluas sekitar 0,21 hektare dengan kombinasi pupuk cair organik dan pestisida nabati berbahan lokal produksi sendiri, serta dosis pupuk kimia yang ditekan, sebagai model budidaya padi berkelanjutan yang tetap menguntungkan petani dan ramah lingkungan.
Pagi hijau di atas 1,5 kotak sawah
Pagi itu, hamparan sawah di Desa Pekalongan tampak hijau rapat, menutup batas pematang yang mulai mengering oleh kemarau pendek awal tahun. Di tengah hamparan, satu petak seluas 1,5 kotak—sekitar seperlima hektare dari tujuh kotak per hektare di blok tersebut—menjadi pusat perhatian: demplot padi Inpari 32 berlabel tiga daun milik Kelompok Tani Wangan Bolek, yang pada umur 45 hari setelah tanam mulai mengeluarkan malai dan menandai fase kritis menuju panen awal 2025.
Demplot ini berada di atas lahan milik Hadiah Sholekhah dan dikelola sebagai “laboratorium lapang” untuk menguji kombinasi pemupukan organik dan pengendalian hama ramah lingkungan, bukan sekadar sawah produksi biasa. Di pematang, spanduk bertuliskan “Kelompok Tani Wangan Bolek” menjadi penanda bahwa petak ini adalah ruang belajar bersama bagi petani setempat.
"Sawah bukan pabrik, tapi harus tetap untung”
Di salah satu pematang, Agus Salim, ketua Kelompok Tani Wangan Bolek, memeriksa satu per satu rumpun padi yang tampak kokoh dengan malai mulai menyembul di antara pelepah. “Sawah ini bukan pabrik yang bisa dituangi bahan kimia terus‑terusan,” katanya kepada beberapa petani yang mengikuti pengamatan lapang, “tapi sawah tetap harus menguntungkan; caranya tanah dijaga sehat, biaya produksi ditekan”.
Pada musim ini, demplot 1,5 kotak itu mendapat jatah 50 kilogram urea dan 25 kilogram KCl—dosis yang sengaja dibuat hemat untuk ukuran kurang dari seperempat hektare. Kekurangan hara tidak dikejar dengan menambah pupuk kimia, melainkan ditopang empat kali aplikasi pupuk cair organik: dua kali Nutribol Daun pada fase vegetatif untuk menggenjot pertumbuhan daun dan batang, serta dua kali Nutribol Buah pada fase generatif guna menopang pembentukan dan pengisian malai; kedua POC tersebut merupakan produk berbahan lokal hasil olahan kelompok tani Wangan Bolek sendiri.
![]() |
| Tampak anggota Kelompok Tani Wangan Bolek sedang menyiapkan bahan Pesnabol untuk pengendalian hama dan jamur (Mukhlisin,2025) |
Meracik perlindungan tanaman dari produk lokal
Pendekatan berkelanjutan juga tampak pada perlindungan tanaman di demplot ini. Wangan Bolek hanya sekali menyemprot pestisida nabati Pesnabol—produk lokal racikan kelompok yang sama—sebagai lini pertahanan utama, lalu menambahkan masing‑masing satu kali semprot fungisida dan insektisida ketika kondisi dianggap perlu.
Pesnabol diramu dari bahan-bahan nabati yang mudah dijumpai di sekitar desa, difermentasi lalu diencerkan sebelum diaplikasikan ke tanaman padi, sehingga petani mengurangi ketergantungan terhadap pestisida sintetis pabrikan. Bagi Agus, langkah ini bukan sekadar mengganti botol obat, melainkan cara menumbuhkan kesadaran baru bahwa pengendalian hama bisa dilakukan dengan bahan lokal, dosis terukur, dan frekuensi yang dikendalikan.
Inpari 32, antara tuntutan hasil dan kelestarian
Varietas Inpari 32 dipilih karena dikenal bertipe tanaman relatif pendek, berbatang kokoh, dan berpotensi menghasilkan gabah tinggi sehingga disukai petani yang tetap mengejar produktivitas. Di Pekalongan, varietas ini diuji dalam kerangka berbeda: mengejar hasil tanpa mengorbankan kelestarian lahan, melalui kombinasi POC Nutribol Daun, Nutribol Buah, dan Pesnabol yang semuanya berbahan lokal.
Pada usia 45 hari setelah tanam, rumpun‑rumpun di demplot Wangan Bolek tampak seragam, dengan daun hijau segar dan malai yang mulai keluar, menjadi indikator awal bahwa paket teknologi yang dicoba sejauh ini mampu menopang pertumbuhan tanaman secara seimbang. Hasil panen mendatang akan menjadi tolok ukur utama: seberapa besar produktivitas yang dapat dicapai dengan input kimia ditekan dan input organik lokal dioptimalkan.
![]() |
| Tampak anggota Agus Salim sedang mengaduk pupuk organik cair Nutribol Buah kebanggaan kelompok tani Wangan Bolek (Mukhlisin, 2025) |
Dukungan desa dan harapan replikasi
Kepala Desa Pekalongan, Fatkhurroi, memandang demplot Wangan Bolek sebagai pintu masuk perubahan pola budidaya di wilayahnya. Pemerintah desa mendorong agar produk lokal seperti Nutribol Daun, Nutribol Buah, dan Pesnabol tidak hanya dipakai di demplot, tetapi juga dikenalkan ke petani lain melalui pelatihan dan demonstrasi lapang.
Jika percobaan di 1,5 kotak milik Hajjah Sholekhah ini berhasil—baik dari sisi tonase gabah, efisiensi biaya, maupun penurunan penggunaan bahan kimia—pola yang sama akan ditawarkan untuk kotak‑kotak sawah lain di hamparan Pekalongan dan desa sekitar. Harapannya, kawasan Winong tidak hanya dikenal sebagai sentra produksi beras, tetapi juga sebagai rujukan praktik budidaya padi berkelanjutan berbasis inovasi lokal petani sendiri.
Jurnalis: Farida Imron
Penyelaras: Zaenal Mustaqim
Fotografi: Mukhlisin



Posting Komentar
0Komentar