WINONG– Di tengah hiruk pikuk Kecamatan Winong, Pati, Jawa Tengah, sosok Mbah Poso (75) adalah anomali yang menenangkan. Setiap dua hari sekali, dengan sepeda motor tuanya, ia berkeliling mengantar krupuk bunder yang gurihnya tak lekang dimakan waktu, bahkan hingga 40 hari. Lebih dari sekadar penjual krupuk, Mbah Poso adalah saksi bisu sejarah kelam bangsa, sebuah kisah yang terukir dalam ingatannya sejak ia masih bocah.
Lahir pada tahun 1951 di Desa Kebolampang, Winong, nama Poso melekat padanya karena ia lahir tepat di hari pertama bulan puasa. Usianya kini telah menginjak 75 tahun, namun semangatnya tak pernah pudar. Ia adalah tulang punggung keluarga dengan empat anak—tiga perempuan dan satu laki-laki yang kini mengabdi sebagai prajurit TNI di Kalimantan, berkat pendidikan yang ditempuhnya di Jakarta. Sepuluh cucu kini menjadi pelengkap kebahagiaan di masa senjanya.
Gurihnya Krupuk, Pahitnya Perjuangan
Sejak tahun 1979, Mbah Poso telah merintis usahanya sebagai penjual krupuk. Krupuk bunder yang ia jual didatangkan langsung dari Pati, menjaga kualitas dan rasa yang telah menjadi ciri khasnya. Sebelum mantap dengan krupuk, berbagai profesi pernah ia geluti. Mulai dari usaha rosokan, menjual suket (rumput), menjajakan sego prabuk, hingga berjualan es krim. Ia bahkan pernah merantau ke Jakarta, mencoba peruntungan di ibu kota, namun sepi pembeli membuatnya memutuskan untuk kembali ke tanah kelahiran.
Kini, krupuk bunder Mbah Poso telah menjadi langganan puluhan warung makan di kawasan Winong. Tak kurang dari 60 warung, termasuk warung bakso, mi ayam di Jakenan dan Wotan, serta warung sate, mengandalkan pasokan krupuk darinya. Dalam sehari, omzetnya bisa mencapai Rp 200.000. Angka yang cukup besar, meski harus dipotong untuk biaya bensin dan makan. Untuk sekali kulakan, Mbah Poso mengeluarkan modal sekitar Rp 1 juta, yang ia putar setiap dua hari sekali.
Saksi Bisu G30S/PKI di Tanah Pati
Di balik senyum ramah penjual krupuk, Mbah Poso menyimpan memori kelam peristiwa G30S/PKI. Saat itu, ia masih duduk di bangku kelas 5 SD di SD Wotan. Ingatannya masih jelas merekam bagaimana guru-gurunya, sekitar 10 orang, dimasukkan ke dalam mobil truk brondol. Sebuah pemandangan yang tak akan pernah ia lupakan.
“Sudah ada datanya. Dibrondong. Diseret, diuncalke koyok wedus,” kenang Mbah Poso, menggambarkan kekejaman yang ia saksikan. Ia menyebutkan bahwa sebagian besar korban berasal dari Kropak, Desa Peluk, serta desa-desa lain seperti Mbalong dan Pucakwangi. Kesaksiannya ini menjadi pengingat betapa dalam luka sejarah yang pernah menggores bumi pertiwi, bahkan hingga ke pelosok desa di Pati.
Kisah Mbah Poso adalah cerminan ketangguhan dan kesederhanaan. Ia bukan hanya penjual krupuk, melainkan juga penjaga ingatan, yang melalui setiap langkahnya, membawa gurihnya harapan dan pahitnya pelajaran dari masa lalu. Sebuah liputan yang layak disematkan pada sosok inspiratif dari Winong ini.
