Peneliti: Tim Inovasi dan Riset SMA N 1 Jakenan
Pendahuluan
Penelitian yang dilakukan oleh Tim Inovasi dan Riset SMA N 1 Jakenan dalam pembuatan ecoenzim dari limbah daun selada, air kelapa, kulit nanas, daun turi, daun gamal, kacang hijau, daun bambu, perakaran bambu, dan molase merupakan inisiatif yang sangat baik dalam menerapkan prinsip pertanian berkelanjutan. Ecoenzim, sebagai pupuk organik cair, memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman, khususnya pada budidaya sayuran daun seperti selada dan sawi. Analisis ini akan menguraikan perkiraan kandungan nutrisi ecoenzim yang dihasilkan serta menyajikan pendekatan pemupukan presisi untuk optimalisasi penggunaannya.
Perkiraan Kandungan Nutrisi Bahan Baku Ecoenzim
Ecoenzim yang dibuat dari berbagai bahan organik akan
memiliki profil nutrisi yang kompleks, mencakup unsur hara makro (N, P, K) dan
mikro, serta senyawa organik lain yang bermanfaat. Proses fermentasi selama
satu bulan akan memecah bahan-bahan kompleks menjadi bentuk yang lebih
sederhana dan mudah diserap tanaman, sekaligus memperkaya larutan dengan
mikroorganisme bermanfaat. Berikut adalah perkiraan kontribusi nutrisi dari
masing-masing bahan baku:
|
Bahan Baku Ecoenzim |
Perkiraan Kandungan Nutrisi Utama |
Referensi |
|
Limbah
Daun Selada |
Bahan organik, sejumlah kecil N, P, K, dan unsur mikro. |
(Zand et al., 1999) |
|
Air
Kelapa |
Kalium (K) tinggi, hormon pertumbuhan (sitokinin), gula,
dan mineral. |
(Prades et al., 2012) |
|
Kulit
Nanas |
Karbohidrat tinggi, vitamin C, enzim bromelain, asam
organik. |
(Upadhyay et al., 2010) |
|
Daun
Turi |
Nitrogen (N) tinggi (3.0-4.0%), Fosfor (P) (0.2%), Kalium (K) (2.0%). |
(Agati, 2024) |
|
Daun
Gamal |
Nitrogen (N) sangat tinggi (3.3-4.5%), Fosfor (P)
(0.2-0.3%), Kalium (K) (2.0-3.5%). |
(Alamu et al., 2023) |
|
Kacang
Hijau |
Protein tinggi (sekitar 21% N), Fosfor (P) sedang,
Kalium (K) sedang. |
(Zafitra, 2022) |
|
Daun
Bambu |
Nitrogen (N) (1.0-1.5%), Fosfor (P) (0.74% P2O5), Kalium
(K) (0.91% K2O). |
(Wang et al., 2017) |
|
Perakaran
Bambu |
Mikroorganisme bermanfaat (Pseudomonas fluorescens, Bacillus sp.). |
(Hamdayanty et al., 2022) |
|
Molase |
Sumber karbon (C) tinggi untuk mikroba, mineral (Ca, Mg,
S, sedikit K). |
(Curtin, 1983) |
Berdasarkan komposisi bahan baku, ecoenzim daun selada ini diperkirakan akan memiliki kandungan Nitrogen (N) yang dominan, diikuti oleh Kalium (K) yang cukup tinggi, dan Fosfor (P) dalam jumlah sedang. Kehadiran mikroorganisme dari perakaran bambu, hormon pertumbuhan alami, asam organik, dan silika akan semakin memperkaya manfaat ecoenzim ini sebagai pupuk hayati dan biostimulan.
Kebutuhan Nutrisi Tanaman Selada dan Sawi
Tanaman selada (Lactuca sativa) dan sawi (Brassica juncea) adalah sayuran daun
yang membutuhkan pasokan nutrisi yang cukup, terutama Nitrogen, untuk
pertumbuhan vegetatif yang optimal. Pendekatan pemupukan presisi bertujuan
untuk menyediakan nutrisi dalam jumlah yang tepat, pada waktu yang tepat, dan
di lokasi yang tepat.
|
Tanaman |
Konsentrasi Nutrisi Total (ppm / EC) |
pH Optimal |
Rasio NPK Ideal |
|
Selada |
560 - 840 ppm (EC 0.8 - 1.2 mS/cm) |
5.5 - 6.5 |
3:1:2 atau 4:1:3 |
|
Sawi |
840 - 1680 ppm (EC 1.2 - 2.4 mS/cm) |
5.5 - 6.5 |
3:1:2 atau 4:1:3 |
Kebutuhan hara spesifik untuk selada dalam sistem tanah
berkisar antara 100-150 kg N/ha, sementara sawi membutuhkan sekitar 60-100 kg
N/ha untuk hasil maksimal (Nemali, 2021; Owen, n.d.).
Strategi Pemupukan Presisi dengan Ecoenzim
1
Analisis
Tanah Awal: Memahami kondisi dasar tanah (pH dan hara tersedia)
untuk menentukan porsi nutrisi yang harus disuplai oleh ecoenzim.
2
Pengujian
Berkala: Fermentasi satu bulan merupakan tahap awal. Ketersediaan
hara akan terus berubah seiring berjalannya proses dekomposisi. Disarankan
pengujian laboratorium setiap bulan.
3
Dosis
Presisi: Aplikasi dimulai dengan konsentrasi rendah (1:1000) pada
fase persemaian dan ditingkatkan hingga 1:250 pada fase vegetatif aktif.
4 Monitoring Visual: Pengamatan warna daun dan laju pertumbuhan untuk menyesuaikan dosis secara dinamis (Hamdayanty et al., 2022).
Referensi
Agati. (2024). Sesbania grandiflora (sesbania) | CABI Compendium. CABI Digital Library. https://www.cabidigitallibrary.org/doi/full/10.1079/cabicompendium.49455
Alamu, E. O., Adesokan, M., Fawole, S., Maziya-Dixon, B., Mehreteab, T., & Chikoye, D. (2023 ). Gliricidia sepium (Jacq.) Walp Applications for Enhancing Soil Fertility and Crop Nutritional Qualities: A Review. Forests, 14(3), 635. https://doi.org/10.3390/f14030635
Curtin, L. V. (1983 ). Molasses - General Considerations.
Molasses in Animal Nutrition. Westway Trading Corp.
Hamdayanty, H., et al. (2022). Effect of Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) from Bamboo Root on Growth and Yield of Soybean. Ecosolum: Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, 11(2), 33-40. https://journal.unhas.ac.id/index.php/ecosolum/article/download/21144/8403
Nemali, K. (2021 ). Nutrition Calculations for Hydroponic Crops. Purdue University. https://www.purdue.edu/hla/sites/cea/wp-content/uploads/sites/15/2021/01/Nutrient-calculations.pdf
Owen, W. G. (n.d. ). Lettuce Nutritional Monitoring Factsheet. Hort Americas. https://hortamericas.com/wp-content/uploads/2018/04/e-gro-Nutritional-Factsheet-Lettuce.pdf
Prades, A., Dornier, M., Diop, N., & Pain, J. P. (2012 ). Coconut water uses, composition and properties: a review. Fruits, 67(2), 87-107.
Upadhyay, A., Lama, J. P., & Tawata, S. (2010). Utilization of Pineapple Waste: A Review. Journal of Food Science and Technology Nepal, 6, 10-18.
Wang, M. L., et al. (2017). Exploring bamboo leaf nutrient value in the USNPGS Germplasm. Austin Food Sciences, 2(1), 1030. https://austinpublishinggroup.com/food-sciences/fulltext/afs-v2-id1030.pdf?OR=Word.
Zafitra, Z. (2022 ). Pertumbuhan Dan Produksi Kacang Hijau (Vigna Radiata L.) Dengan Aplikasi Pupuk Kompos Serasah Daun Bambu Dan Limbah Cair Tahu Pada Media Ultisol. Repository UIR.
Zand, et al. (1999). Pertumbuhan dan Kandungan Calsium Tanaman Sawi dan
Selada. Sriwijaya University Conference.