Laporan ini menyajikan analisis mendalam mengenai tren dan pola kecenderungan data uji nutrisi pada budidaya tanaman melon dengan media arang sekam dolomit yang diberi tindakan pupuk organik cair plus mikro daun bambu. Data yang dianalisis berasal dari dua periode pengujian yang dilakukan oleh observer Suhadi di Desa Pekalongan, Winong, Pati, Jawa Tengah.
1. Pendahuluan dan Metodologi
Analisis ini didasarkan pada dua set data pengujian
lapangan yang dilakukan pada waktu yang berbeda selama siklus pertumbuhan
tanaman melon. Tujuan utama dari analisis ini adalah untuk memahami bagaimana
kondisi media tanam dan ketersediaan nutrisi berubah seiring dengan
bertambahnya usia tanaman.
Pengambilan data dilakukan pada dua periode waktu yang berbeda:
1
Periode
1: Dilakukan pada tanggal 04 April 2026, saat tanaman berusia 8
Hari Setelah Tanam (HST). Pada periode ini, pengukuran dilakukan pada 13
polibag yang berbeda.
2
Periode
2: Dilakukan pada tanggal 16 April 2026, saat tanaman berusia 20
HST. Pada periode ini, jumlah sampel pengukuran meningkat menjadi 19 pot.
Parameter yang diukur mencakup kondisi fisik media tanam (Temperatur dan Kelembaban/Moisture), kondisi kimiawi (Konduktivitas Elektrik/EC, Salinitas, dan pH), serta ketersediaan makronutrien utama (Kandungan Nitrogen/N, Fosfor/P, dan Kalium/K).
2. Analisis Perubahan Parameter Nutrisi dan Kondisi Tanah
Perbandingan antara kedua periode pengujian menunjukkan adanya pergeseran signifikan pada hampir semua parameter yang diukur. Perubahan ini mencerminkan dinamika interaksi antara tanaman yang sedang tumbuh dengan media tanamnya, serta efek dari penyerapan nutrisi oleh tanaman.
|
Parameter |
Rata-rata Periode 1 (8 HST) |
Rata-rata Periode 2 (20 HST) |
Perubahan (%) |
|
Temperatur (°C) |
36.29 ± 2.24 |
29.79 ± 1.69 |
-17.90% |
|
Kelembaban/Moisture (%) |
66.85 ± 8.62 |
64.06 ± 8.20 |
-4.16% |
|
Konduktivitas Elektrik/EC (μS/cm) |
1169.15 ± 447.96 |
1002.37 ± 244.92 |
-14.27% |
|
Salinitas (mg/L) |
629.62 ± 238.76 |
634.53 ± 160.29 |
+0.78% |
|
Nitrogen/N (mg/kg) |
150.23 ± 55.53 |
128.68 ± 28.41 |
-14.34% |
|
Fosfor/P (mg/kg) |
57.15 ± 44.64 |
36.37 ± 15.09 |
-36.37% |
|
Kalium/K (mg/kg) |
191.54 ± 62.76 |
169.26 ± 36.38 |
-11.63% |
|
pH Tanah |
6.78 ± 0.17 |
6.58 ± 0.21 |
-2.98% |
Tabel di atas merangkum perubahan nilai rata-rata dari setiap parameter. Secara umum, terlihat adanya tren penurunan pada sebagian besar indikator, yang akan dibahas lebih rinci pada bagian selanjutnya.
| Gambar 1: Visualisasi persentase perubahan rata-rata parameter dari Periode 1 (8 HST) ke Periode 2 (20 HST). |
3. Dinamika Makronutrien (N, P, K)
Fokus utama dari pengujian ini adalah ketersediaan makronutrien utama: Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Analisis data menunjukkan tren penurunan yang konsisten untuk ketiga unsur hara tersebut seiring bertambahnya usia tanaman dari 8 HST menjadi 20 HST.
| Gambar 2: Distribusi dan perbandingan kandungan Nitrogen, Fosfor, dan Kalium antara kedua periode. |
Penurunan paling tajam terjadi pada ketersediaan Fosfor (P), yang anjlok sebesar 36.37% dari rata-rata 57.15 mg/kg menjadi 36.37 mg/kg. Fosfor sangat krusial pada fase awal pertumbuhan vegetatif dan perkembangan akar tanaman. Penurunan drastis ini mengindikasikan bahwa tanaman melon menyerap Fosfor dalam jumlah besar selama periode pertumbuhan antara hari ke-8 hingga hari ke-20.
Kandungan Nitrogen (N) juga mengalami penurunan yang signifikan sebesar 14.34%, dari rata-rata 150.23 mg/kg menjadi 128.68 mg/kg. Nitrogen merupakan komponen utama dalam pembentukan klorofil dan protein, yang sangat dibutuhkan tanaman melon untuk pertumbuhan daun dan batang pada fase vegetatif aktif ini.
Sementara itu, ketersediaan Kalium (K) menurun sebesar 11.63% dari 191.54 mg/kg menjadi 169.26 mg/kg. Meskipun penurunannya tidak setajam Fosfor, serapan Kalium tetap terjadi secara konstan untuk mendukung pengaturan osmotik dan aktivasi enzim dalam jaringan tanaman.
Selain penurunan nilai rata-rata, variasi (standar deviasi) ketersediaan nutrisi antar pot juga menyempit pada Periode 2. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi nutrisi di dalam media tanam menjadi lebih homogen seiring berjalannya waktu, kemungkinan akibat proses penyebaran nutrisi dari pupuk organik cair yang semakin merata.
4. Perubahan Kondisi Fisik dan Kimiawi Media Tanam
Kondisi fisik dan kimiawi media arang sekam dolomit juga
mengalami perubahan yang patut dicermati selama periode pengamatan.
| Gambar 3: Perbandingan parameter fisik dan kimiawi tanah (Temperatur, Kelembaban, EC, dan pH). |
Temperatur tanah mengalami penurunan yang sangat mencolok sebesar 17.90%, dari rata-rata 36.29°C pada 8 HST menjadi 29.79°C pada 20 HST. Penurunan suhu ini kemungkinan besar berkorelasi dengan perkembangan kanopi tanaman melon. Seiring bertambahnya usia, daun tanaman menjadi lebih rimbun dan menutupi permukaan media tanam (polibag/pot), sehingga memberikan efek peneduh (shading) yang mengurangi paparan langsung sinar matahari ke media tanam. Suhu di kisaran 29°C pada periode kedua ini justru lebih ideal untuk aktivitas mikrobiologis dari mikro daun bambu yang diaplikasikan.
Tingkat kelembaban (Moisture) media tanam sedikit menurun sebesar 4.16% (dari 66.85% menjadi 64.06%). Penurunan tipis ini wajar terjadi mengingat tanaman yang semakin besar akan menyerap dan mentranspirasikan air dalam jumlah yang lebih banyak.
Dari segi kimiawi, pH tanah mengalami sedikit penurunan (menjadi lebih asam) sebesar 2.98%, dari rata-rata 6.78 menjadi 6.58. Meskipun turun, nilai pH pada Periode 2 masih berada dalam rentang ideal (6.0 - 7.0) untuk budidaya melon, di mana ketersediaan sebagian besar unsur hara berada pada tingkat optimal. Penggunaan dolomit dalam media tanam tampaknya berhasil menjalankan fungsinya sebagai penyangga (buffer) pH sehingga penurunan yang terjadi tidak drastis meskipun ada aplikasi pupuk organik cair secara berkala.
5. Hubungan Salinitas dan Konduktivitas Elektrik (EC)
Konduktivitas Elektrik (EC) dan Salinitas merupakan
indikator penting untuk mengukur total konsentrasi ion terlarut (termasuk
nutrisi) dalam media tanam.
Gambar 4: Distribusi nilai Salinitas dan Konduktivitas Elektrik pada kedua periode.
Terdapat temuan yang menarik pada kedua parameter ini. Nilai EC mengalami penurunan yang cukup signifikan sebesar 14.27% (dari 1169.15 μS/cm menjadi 1002.37 μS/cm). Penurunan EC ini sejalan dengan tren penurunan makronutrien (N, P, K) yang telah dibahas sebelumnya. Berkurangnya ion-ion nutrisi akibat serapan oleh tanaman secara langsung berdampak pada menurunnya kemampuan media tanam dalam menghantarkan listrik.
Namun demikian, tingkat Salinitas justru menunjukkan kondisi yang relatif stabil, bahkan sedikit meningkat sebesar 0.78% (dari 629.62 mg/L menjadi 634.53 mg/L). Stabilitas salinitas di tengah menurunnya EC dan nutrisi utama mengindikasikan adanya akumulasi ion-ion lain (non-hara utama) di dalam media tanam. Ion-ion ini bisa berasal dari residu pupuk organik cair, pelarutan mineral dari arang sekam, atau penguraian dolomit (Ca dan Mg) yang tidak diserap secepat makronutrien N, P, dan K.
| Gambar 5: Scatter plot yang menunjukkan hubungan positif antara Konduktivitas Elektrik (EC) dengan ketersediaan makronutrien. |
6. Kesimpulan dan Rekomendasi
Berdasarkan analisis data dari kedua periode pengujian (8
HST dan 20 HST), dapat ditarik beberapa kesimpulan penting mengenai budidaya
melon dengan media arang sekam dolomit dan pupuk organik cair plus mikro daun
bambu:
4
Perbaikan
Iklim Mikro: Penurunan temperatur media tanam sebesar 17.90%
mengindikasikan terbentuknya iklim mikro yang lebih sejuk akibat naungan kanopi
daun, yang menguntungkan bagi perkembangan akar dan aktivitas mikroba
menguntungkan.
5
Stabilitas
Media Tanam: Penggunaan dolomit terbukti efektif menjaga pH tanah
tetap stabil di kisaran ideal (6.58) meskipun terjadi penyerapan nutrisi
besar-besaran dan fluktuasi parameter lainnya.
