Kupatan Kendeng 2026: Merawat Ruang Hidup, Menolak Bencana di Bumi Kendeng

Kunjungan Lapangan
KUPATAN KENDENG
- Di bawah rintik gerimis yang membasahi Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, ratusan warga berkumpul di rumah joglo milik Joko Prianto pada Kamis (23/3/2026). Mereka tampak bersemangat mengikuti arakan gunungan ketupat yang rutin digelar setiap kali momen Lebaran tiba.

Tahun ini, tradisi yang populer dengan sebutan Kupatan Kendeng tersebut telah memasuki penyelenggaraan yang ke-11 sejak pertama kali diinisiasi pada tahun 2015. Mengusung tema "Nyawiji Nolak Molo", acara ini bukan sekadar perayaan Idul Fitri biasa, melainkan simbol konsistensi perlawanan warga terhadap industri ekstraktif yang mengancam ruang hidup mereka.

"Maksud temanya adalah bersatu menolak molo yang bisa diartikan sebagai celaka, bencana, hama, dan segala hal buruk lainnya. Molo di Pegunungan Kendeng ini yang paling terlihat ialah tambang semen," ungkap Joko Prianto, Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK).

Ritual Syukur dan Refleksi Kritis

Rangkaian acara Kupatan Kendeng 2026 yang berlangsung pada 24-25 Maret ini memadukan prosesi adat yang sarat makna dengan dialog publik yang kritis. Prosesi dibuka dengan penabuhan lesung oleh petani perempuan Desa Tegaldowo, sebuah ritual simbolis yang menandakan rasa syukur atas hasil panen yang masih bisa dinikmati di tengah himpitan krisis ekologis.

Selain itu, terdapat prosesi Lamporan dan Temon Banyu Beras. Tokoh Gerakan Sedulur Sikep, Gunretno, menjelaskan filosofi mendalam di balik ritual tersebut. Menurutnya, proses panjang bertemunya air dan beras hingga menjadi kehidupan (nasi/ketupat) adalah pengingat bagi generasi penerus bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa pangan.

"Ketika kami berada di Banyu, kami berada di tempat yang sangat luar biasa. Padi itu ditutup air. Ada proses panjang bertemunya air dan beras untuk bisa dipususi menjadi kehidupan. Ini untuk selalu mengingatkan penerus ini tahu akar sejarah bahwa kita hidup itu tidak bisa meninggalkan adanya pangan," tutur Gunretno.

Lebih lanjut, Gunretno menguraikan makna molo sebagai simbol ambisi dan keserakahan manusia yang tiada habisnya. Ia menganalogikan molo sebagai api yang harus dipadamkan dengan air (hujan), yang pada akhirnya akan memunculkan pelangi sebagai simbol keseimbangan alam yang kembali pulih.

Kolaborasi Seni dalam Perjuangan Ekologis

Daya tarik lain dari Kupatan Kendeng adalah keterlibatan para seniman, salah satunya Eggy Yunaedi. Seniman asal Rembang ini telah berkolaborasi dengan Sedulur Sikep sejak 2023. Eggy melihat bahwa tradisi Kupatan yang sudah ada di masyarakat Tegaldowo memiliki potensi besar untuk dimaknai ulang sebagai medium perjuangan.

"Saya kemudian punya gagasan untuk bagaimana kalau teman-teman ini membuat sebuah interpretasi ulang atas tradisi kupatan. Karena kupatan itu ternyata sebetulnya adalah tradisi untuk ngaku lepat (mengaku bersalah). Selama ini kupatan itu dipahami sebagai ngaku lepat kepada tetangga, saudara. Padahal dalam kosmologi teman-teman di Kendeng ini, mereka tidak hanya berinteraksi dengan manusia, mereka menaruh hormat yang besar pada alam," jelas Eggy.

Dari pemikiran tersebut, lahirlah konsep Kupatan Kendeng di mana warga tidak hanya saling bermaafan antar sesama manusia, tetapi juga meminta maaf kepada alam karena merasa belum cukup menjaganya dengan baik. Eggy juga dikenal dengan karya seninya yang menggunakan material tak lazim, seperti lukisan dari garam, yang semakin memperkaya narasi perlawanan kultural di Kendeng.

Kerugian Triliunan Rupiah Menghantui Kendeng

Di balik prosesi budaya yang khidmat, terpendam realitas pahit yang harus dihadapi warga. Kehadiran pabrik semen di kawasan karst Kendeng telah membawa dampak signifikan terhadap lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Joko Prianto mengungkapkan bahwa debit air tanah terus berkurang akibat rusaknya kawasan karst yang berfungsi sebagai penyimpan cadangan air (CAT Watuputih). Warga terpaksa memperdalam sumur mereka hingga 10 meter. Selain itu, polusi debu dari mesin conveyor pabrik semen telah menyebabkan banyak warga menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan memicu gagal panen selama tiga tahun terakhir.

Dampak ini juga dirasakan sangat berat oleh kaum perempuan. Sukinah, salah satu "Kartini Kendeng" dari Desa Tegaldowo, menyuarakan kekhawatirannya. "Kalau air habis, bagaimana ibu-ibu bisa mengurusi rumahnya, anak-anak juga sulit tumbuh sehat kalau tambang ini dibiarkan," tegasnya.

Klaim warga mengenai dampak negatif industri semen ini sejalan dengan temuan dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS). Peneliti CELIOS, Jaya Darmawan, memaparkan perhitungan potensi kerugian imbas beroperasinya pabrik semen di Rembang sejak 2014 hingga 2025 yang angkanya sangat fantastis.


Sumber: Perhitungan CELIOS yang dipaparkan dalam Dialog Publik Kupatan Kendeng 2026 

"Artinya tidak hanya warga Tegaldowo yang rugi tapi negara juga, sehingga perlu ada evaluasi menyeluruh," kata Jaya Darmawan. Angka kerugian total Rp 35,9 triliun ini sangat kontras jika dibandingkan dengan APBD Kabupaten Rembang tahun 2025 yang hanya sebesar Rp 2,01 triliun.

Menanti Evaluasi dan Harapan Pemulihan

Di sisi lain, bisnis industri semen secara nasional juga tengah menghadapi tantangan. Laporan CELIOS menyebutkan bahwa sejak 2025, pabrik semen di Rembang beberapa kali menghentikan operasinya akibat lesunya bisnis semen. Produksi semen nasional saat ini dinilai melebihi kebutuhan pasar, sementara ekspor menurun akibat persaingan internasional.

Joko Prianto berharap kondisi ini dapat menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan menutup pabrik semen secara permanen. "Mirip puasa Senin Kamis, kadang tutup lalu buka lagi. Kami penginnya tutup permanen karena terbukti rugi secara bisnis, apalagi itu perusahaan BUMN yang kerugiannya ditanggung negara," ujarnya.

Kupatan Kendeng 2026 "Nyawiji Nolak Molo" menjadi pengingat keras bahwa pembangunan tidak boleh mengabaikan risiko bencana, kerusakan lingkungan, dan hilangnya ruang hidup. Seperti yang disampaikan LBH Semarang dalam rilisnya, menjaga Pegunungan Kendeng bukan sekadar penolakan terhadap industri ekstraktif, melainkan upaya merawat kehidupan yang berakar pada tradisi, solidaritas, dan kesadaran ekologis.

Perjuangan warga Kendeng membuktikan bahwa kearifan lokal dan data saintifik dapat bersatu menjadi kekuatan yang tak terbendung untuk menyuarakan keadilan ekologis demi masa depan generasi mendatang.

Rujukan tulisan

Mongabay Indonesia. "Kupatan Kendeng Wadah Konsolidasi Tolak Tambang Semen."
Rembang TV. "[Temon Banyu Geni Kupatan Kendeng 2026](https://youtu.be/4PX8NUya3-s?si=ilzCHod_rI7VPpII )". Wawancara dengan Gunretno (Tokoh Gerakan Sedulur Sikep).
Rembang TV. "[Kupatan Kendeng 2026 Nyawiji Tolak Molo](https://youtu.be/wVBGVR0Wzok?si=iAtjSSKgmOTMRoz3 )". Wawancara dengan Gunretno (Tokoh Gerakan Sedulur Sikep).
Rembang TV. "[EGGY YUNAEDI SENIMAN AKTIVIS, PENGGAGAS KUPATAN KENDENG SAMPAI LUKISAN GARAM](https://youtu.be/WftFdddtsDE?si=31EBO_63k2NFYfM9 )". Wawancara dengan Eggy Yunaedi.
LBH Semarang. "[Rilis Kegiatan Kupatan Kendeng 2026: Nyawiji Nolak Molo](https://www.instagram.com/p/DWWyXTvAcBB/ )". Instagram @lbhsemarang.

Posting Komentar